Penulis: Rudi Yudistira
TVRINews, Kabupaten Agam
Harga cabai alami kenaikan yang cukup drastis, yang mulanya Rp30.000 kini menjadi Rp65.000 per kilogram yang membuat masyarakat mengeluh. Namun, hal sebaliknya terjadi di Kecamatan Matur.
Ini karena, masyarakat di Kecamatan Matur yang merupakan petani cabai menganggap jika kenaikan harga cabai tersebut malah membawa dampak positif bagi para petani setempat.
Menyikapi hal tersebut, masyarakat diaana tetap meminta agar pemerintah daerah tetap memperhatikan harga pendukung produksi guna memastikan petani benar-benar merasakan dampak positifnya.
Camat Matur, Muhammad Subchan mengatakan walaupun saat ini kenaikan harga cabai memberikan keuntungan kepada petani.
Namun, ia akan mengambil langkah pengawalan terhadap harga pupuk dan pestisida perlu diambil untuk mencegah naiknya biaya produksi yang dapat mengurangi keuntungan petani.
"Kenaikan harga cabai memberikan keuntungan kepada petani, tetapi kita harus memastikan bahwa harga pendukung produksi tetap terjaga. Jika tidak, petani akan kesulitan menikmati hasil dari kenaikan harga cabai," ujar Camat Matur Muhammad Subchan, Senin26 Februari 2024.
Tidak hanya cabai, harga seluruh jenis sayuran juga mengalami kenaikan signifikan di pasar lokal, dari rata-rata Rp5.000 per kilogram menjadi 15 hingga Rp20.000 per kilogram.
Ia juga menilai, jika situasi ini diduga dipicu oleh gagal panen yang dialami petani di sekitar wilayah kaki Gunung Marapi akibat erupsi gunung tersebut.
“Kenaikan harga cabai dan sayuran juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat menjelang bulan suci Ramadhan. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan yang lebih tinggi, yang dapat memicu kenaikan harga. Oleh karena itu, pengendalian harga oleh pihak terkait diharapkan dapat menghindari inflasi yang berlebihan di pasar,” terang dia.
“Kenaikan harga cabai merah dan sayuran di Kecamatan Matur menunjukkan kompleksitas dalam dinamika ekonomi lokal dan menekankan perlunya perhatian yang lebih besar dari pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga untuk keberlanjutan ekonomi petani serta kebutuhan masyarakat,” lanjutnya.
Baca Juga: Jelang Ramadhan, Warga Desa Sukoanyar, Kabupaten Mojokerto Gelar Tradisi Ruwatan Tumpeng Hasil Bumi
Editor: Redaktur TVRINews
