Penulis: Patman Werang
TVRINews, Flores Timur
Genang era merupakan salah satu ritus budaya masyarakat adat Lamoholot, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dimana benih bagi masyarakat Lamaholot yang lazim dikenal dengan sebutan ‘tonu wujo-besi pare’ atau lebih dikenal luas dengan dewi padi bagi masyarakat adat Pulau Jawa.
Festival ‘Genang Era’ merupakan festival yang digagas oleh orang muda Pandu Budaya dengan melibatkan sejumlah komunitas adat dari Pulau Solor, Adonara, Flores Timur Daratan dan Lembata.
Festival ini berlangsung di Leworok Desa Leraboleng, Kecamatan Titehena Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
Festival ‘Genang Era’ yang diartikan dalam bahasa Lamaholot yaitu ‘mewariskan benih’. Jadi, dari festival ini menegaskan semangat orang muda untuk menggali, mengangkat serta memperkenalkan kembali keragaman pangan lokalnya.
Karena itu, festival ini harus dijaga dan diwariskan, sehingga ketergantungan terhadap beras pasokan dari luar oleh masyarakat Flores Timur sangat tinggi, hal ini menyebabkan minimnya pengetahuan dan kesadaran generasi muda Flores Timur terhadap keanekaragaman pangan lokal di daerahnya yang sudah dikonsumsi oleh para leluhur Lamaholot yang sudah ada sejak dahulu.
Festival ‘Genang Era’ ini menjadi jalan bagi pandu budaya untuk mengenali dan menegaskan kembali bahwa pangan lokal merupakan solusi dalam menghadapi persoalan pangan yang ramai dibicarakan dewasa ini.
Komunitas adat yang memiliki dan merawat benih pangan lokal, ritus serta segala tradisi dan pengetahuan terkait pangan menjadi rumah belajar yang tepat bagi orang muda. Bahwasanya pangan bukan sebatas apa yang dimakan, melainkan lebih dari itu menyimpan kekayaan kerohanian, tradisi serta pengetahuan dan ungkapan cita-rasa seni masyarakatnya.
Pergelaran festival ‘Genang Era’ diawali dengan aneka kegiatan, antara lain, karnaval prosesi benih, pameran, workshop pengolahan pangan lokal, pentas seni, atraksi panen madu, permainan rakyat, lomba cerita rakyat, kunjungan ke situs dan hamparan ladang tradisional, dialog budaya bertema ‘Ritus dan Pangan’, dan ritual ape nahan (mengakhiri musim panas dan memasuki musim tanam) dalam tradisi berladang menjadi suguhan bernuansa khas kampung adat Lamaholot, Flores timur.
Untuk diketahui, festival ini merupakan presentasi hasil belajar Sekolah Lapang Kearifan Lokal yang diselenggarakan oleh Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Dirjen Kebudayaan Kemdikbudristek RI di Kabupaten Flores Timur tahun 2023.
Festival ini merupakan pesta keanekaragaman pangan berikut pengetahuan dan kearifan etis-ekologis serta nilai-nilai yang melekat padanya. Oleh karena itu, pelaksanaan Festival Genang Era merupakan momentum awal dalam usaha menginternalisasikan kembali nilai, pengetahuan, dan praktik budaya berpangan lokal dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengubah pola konsumsi masyarakat serta mendorong arah pembangunan yang berorientasi pada pelestarian dan pemanfaataan budaya pangan.
Selain itu, ada juga fokus lain dari festival ini, yang bertujuan menyelamatkan pengetahuan tentang pangan lokal serta mendorong usaha kuliner berbahan pangan lokal di Kabupaten Flores Timur, menuju terwujudnya masyarakat adat Lamaholot, Flores timur yang bermartabat dan mempertahankan keragaman aneka budaya, seni serta pangan lokal yang terwarisi sempurna secara turun temurun dan tak akan tergerus seiring arus perubahan.
Baca Juga: Mahasiswa Minta Kapolri Tuntut Ungkap Kasus Pembunuhan Ayahnya, Polda Lampung: Akan Kami Dalami
Editor: Redaktur TVRINews
