Writer: Alfin
TVRINews, Bandung
Hidangan bubur ayam (buryam) biasa menjadi hidangan nikmat untuk sarapan pada pagi hari. Makanya tak jarang, kenikmatan sajian bubur ayam juga dijadikan ide usaha pagi hari bagi banyak orang.
Namun, ada salah satu usaha bubur ayam sederhana di pinggiran jalan kota Bandung, justru menjajakannya pada waktu malam hari.
Usaha bubur ayam ini telah memasuki perjalanan waktu tujuh dekade.
Ya, Bubur Ayam Pa'Otong, di kawasan pasar Andir Ciroyom. Tidak hanya enak, usaha bubur ayam pinggir jalan inipun juga dikenal legendaris. Meski tidak memiliki tempat seperti resto modern pada umumnya, tempat usaha bubur ayam Pa’ Otong yang dipinggir jalan ini tetap memiliki banyak pelanggan setia ditengah persaingan usaha kuliner modern lainnya. Bahkan, ratusan porsi bubur ayam ludes dalam waktu sekitar enam jam.
Usaha turun temurun bubur ayam Pa' Otong sudah memasuki usia tujuh dekade. Kenikmatan bubur ayam Pa' Otong tetap eksis memanjakan lidah pecinta kuliner dari berbagai kalangan, mulai masyarakat biasa, maupun tokoh terkenal. Berada di Jalan Jenderal Sudirman, Ciroyom, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, usaha Bubur Ayam Pa'Otong masih setia mempertahankan citarasa sejak dulu.
Saat ini, usaha Bubur Ayam Pa’Otong dijalankan generasi ketiga, yakni Ricky Fauzi. Ia merupakan cucu dari H. Hadun (ayah Pa’Otong) yang menjadi pelopor usaha kuliner legendaris tersebut. Menurut Ricky, ia sudah terbiasa menjalankan usaha turunan ini karena sejak dahulu telah menjadi bagian hidupnya sejak kecil hingga mengenyam bangku perkuliahan.
Menurutnya, berdasarkan cerita secara turun temurun, sejarah usaha bubur ayam ini tidak menetap di satu tempat seperti saat ini. Namun berpindah-pindah karena masih menggunakan wadah yang dipanggul. Area jualan ini pertama kali juga seputaran pasar Ciroyom, mulai dari jalan Kebon Jati, Kebon Jati, hingga jalan Sudirman, Bandung.
“Usaha ini sudah dimulai, diawal kemerdekaan Indonesia (1947). Saat itu, kakek menjalankan usaha bubur ayam masih berpindah-pindah, di seputaran jalan Gardu Jati sampai Kawasan Ciroyom. Itu juga di panggul,” kata Ricky Fauzi, saat ditemui TvriNews.com, Selasa dini hari, 23 April 2024.
Kemudian, usaha ini diteruskan generasi kedua, yakni Pa’Otong, ayah Ricky yang diawalnya juga masih berpindah-pindah. Namun pada tahun 1980-an akhir, mulai menetap di jalan Sudirman kota Bandung.
“Usaha (diteruskan) ke Ayah, masih berpindah-pindah. Menetap di jalan Sudirman sekitar tahun 80-an akhir,” lanjut Ricky.
Sejak tahun 2000an, usaha turun temurun sejak tahun 1947 ini, dijalankan Ricky sejak ia mengenyam bangku perkuliahan. Namun, saat itu Ricky hanya membantu jalannya usaha. Mulai tahun 2010, Ricky sudah sepenuhnya menjalankan usaha bubur ayam Pa’ Otong.
Meski ditengah gempuran usaha kuliner yang modern, Ricky masih optimis dan bisa menjalankan usaha ini. Ia juga meng ’upgrade’ sistem pemesanan dan pembayaran, dari sistem tradisional cash kini juga melayani pembayaran digital. Selain itu, delapan orang pekerja yang membantunya dalam menjalankan usaha.
"Yang bekerja ada delapan, termasuk yang ikut masak," tutur Ricky.
Saat ini, kuantitas penjualan penjualan bubur ayam Pa’ Otong cukup signifikan. Terlebih ia harus menghabiskan puluhan kilogram beras setiap hari.
“Dua puluh kilo beras. Mungkin tiga ratusan (Porsi),” katanya.
Di Bandung ada bubur ayam yang dijajakan malam hari. Gurih hangat bubur ini telah populer sejak 76 tahun lalu bahkan menjadi favorit Ridwan Kamil. Bubur yang dijajakan dengan gerobak sederhana ini memanfaatkan lahan teras sebuah toko untuk berjualan. Menurut Ricky, rahasia kesuksesan warung bubur ayam ini terletak pada cita rasa yang khas dan konsistensi dalam penyajian. Meskipun hanya buka di malam hari, tetapi minat warga untuk menikmati bubur ayam khas Pa' Otong tidak pernah surut.
"Kami tetap setia dengan resep asli nenek moyang kami dan tidak mengubahnya sejak dulu," ujar Ricky dengan bangga.
Warung bubur ayam Pa' Otong bukan hanya sekadar tempat makan, tetapi juga menjadi tempat berkumpulnya berbagai kalangan. Para pelanggan setia seringkali menghabiskan waktu di sana sambil berbincang-bincang santai.
"Atmosfer yang hangat dan ramah di warung kami membuat para pelanggan merasa seperti di rumah sendiri," tambah Ricky.
Meskipun telah berpuluh-puluh tahun beroperasi, Ricky berkomitmen untuk terus menjaga dan mengembangkan warung bubur ayam Pa' Otong agar tetap menjadi pilihan utama bagi warga Bandung.
"Kami berterima kasih atas dukungan yang telah kami terima dari para pelanggan setia kami selama ini, dan kami akan terus berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka," tutup Ricky dengan senyum.
Editor: Redaktur TVRINews
