Writer: Langkah Bahtiar
TVRINews, Blitar
Kegiatan flushing atau yang dikenal masyarakat sebagai pladu rutin dilakukan setiap tahun untuk mengurangi sendimen di Bendungan Wlingi dan Lodoyo.
Pada saat pandemi COVID-19, pihak bendungan tidak melakukan flushing selama dua tahun. Hal ini mengakibatkan tumpukan sendimen yang banyak hingga sampai mengeras, membuat saluran air untuk PLTA, irigasi, dan air minum terganggu.
Selain menumpuknya sendimen, pihak pengelolaan juga mengkhawatirkan banyaknya kerumunan warga yang menyaksikan flushing hingga warga yang mencari ikan.
Flushing sendiri bertujuan mengurangi sendimen yang menyebabkan berkurangnya kapasitas tampung bendungan. Dengan penggelontoran ini, diharapkan volume air yang bisa ditampung kembali meningkat.
Selain manfaat teknis, masyarakat sekitar turut memanfaatkan momen flushing untuk menangkap ikan, menambah pendapatan melalui kearifan lokal.
Namun, Jasa Tirta I selalu menghimbau warga untuk tetap waspada, mengingat debit air yang deras dapat membahayakan keselamatan.
Vice Presiden Regional 1 Perum Jasa Tirta I, Ganindra Adi Cahyono mengatakan flushing tidak bisa diselesaikan dalam satu hari. Rencananya akan berlangsung selama satu pekan supaya sendimen yang mengendap setahun penuh bisa menghilang. Hal ini memerlukan alat berat untuk mengaduk dan mengalirkannya.
Sebanyak enam unit ekskavator dikerahkan di Bendungan Wlingi dan dua unit di Bendungan Lodoyo. Targetnya, mengurangi tiga ratus ribu meter kubik sendimen di Wlingi dan dua ratus ribu meter kubik di Lodoyo.
“Alhamdulillah flushing Bendungan Wlingi dapat dilaksanakan dan mendapat tanggapan positif dari masyarakat setempat. Dengan adanya flushing ini diharapkan bisa mengurangi sendimen bendungan yang menyebabkan berkurangnya kapasitas tampung bendungan,” ujar Ganindra.
Dengan flushing ini, kapasitas Bendungan Wlingi yang semula 2,4 juta meter kubik diharapkan naik menjadi 2,7 juta meter kubik.
Sebelumnya, saat dibangun, Bendungan Wlingi memiliki daya tampung sekitar 5 juta meter kubik. Kini akibat sendimentasi, kapasitas efektifnya hanya tersisa sekitar 44 hingga 46 persen.
Editor: Redaktur TVRINews
