Writer: Rini
TVRINews – BANJARMASIN
Minim pendaftar, fasilitas memprihatinkan, hingga akses sulit jadi alasan orang tua enggan sekolahkan anak di SDN Banua Anyar 10 dan SDN Pengambangan 10.
Hari pertama masuk sekolah, biasanya menjadi momen sibuk dan meriah di banyak sekolah. Namun pemandangan berbeda justru tampak di dua sekolah negeri yang berada di jantung Kota Banjarmasin: SDN Banua Anyar 10 dan SDN Pengambangan 10. Alih-alih dipenuhi siswa baru, bangku-bangku kosong justru mendominasi ruang kelas.
Di SDN Banua Anyar 10, hanya 15 siswa yang tercatat masuk di kelas 1 pada tahun ajaran 2025/2026. Jumlah ini turun dari tahun sebelumnya. Kepala Sekolah Akhyar Gunawan mengungkapkan bahwa pihaknya sudah melakukan pendekatan langsung ke masyarakat untuk menjaring pendaftar, namun hasilnya tetap minim. Salah satu penyebabnya adalah banyak warga yang pindah domisili ke luar kawasan.
"Tahun ini murid baru kami hanya 15 orang. Banyak warga sekitar yang pindah, anak-anak akhirnya sekolah di tempat lain atau ikut keluarganya di luar wilayah ini," jelas Akhyar, Senin (7/7/2025).
Kondisi serupa juga terjadi di SDN Pengambangan 10. Sekolah yang terletak di kawasan bantaran sungai Banjarmasin Timur ini hanya menerima 10 siswa baru. Ironisnya, kondisi fisik sekolah jauh dari layak. Beberapa bagian dinding berlubang, dan akses menuju sekolah hanya bisa dilalui melalui titian kayu, yang cukup berisiko terutama bagi anak-anak.
Kepala Sekolah SDN Pengambangan 10, Nor Alinah, mengungkapkan bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala administrasi, seperti tidak memiliki KTP, kartu keluarga, hingga akta kelahiran. Hal ini membuat mereka tidak bisa terdaftar secara resmi dalam sistem online pendaftaran sekolah.
"Bukan tidak ada murid, tapi karena dokumen tidak lengkap, anak-anak ini tak bisa masuk sistem. Kami bantu pendaftaran offline, tapi tetap sulit," ujar Nor Alinah.
Ironi ini menjadi potret buram pemerataan pendidikan di kota besar. Meski berada di tengah kota, dua sekolah ini justru terabaikan. Situasi ini juga dialami oleh sejumlah sekolah dasar dan menengah lain di Banjarmasin yang mengalami kekurangan peserta didik.
Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Banjarmasin, khususnya Dinas Pendidikan, untuk segera mengambil langkah konkret. Pemerataan kualitas pendidikan tak cukup hanya dengan membangun gedung sekolah, tapi juga perlu menjamin akses, fasilitas, serta dukungan administratif bagi masyarakat.
Tanpa intervensi cepat dan terarah, bangku-bangku kosong ini bukan sekadar statistik, tapi menjadi cermin rapuhnya fondasi pendidikan dasar di "Kota Seribu Sungai".
Baca juga: Letusan Gunung Lewotobi Laki-laki Tutup Empat Bandara di NTT
Editor: Redaksi TVRINews
