
Penulis: Indra Wijaya
TVRINews, Badung
Semangat kebangkitan pertanian organik di Bali kini turut digerakkan oleh peran petani muda perempuan.
Salah satu sosok yang mencerminkan hal tersebut adalah Ni Putu Meilanie Ary Sandi. Perempuan muda asal Kabupaten Tabanan ini memilih kembali ke desa dan mengelola lahan keluarga seluas sekitar setengah hektare setelah sebelumnya tinggal di Kabupaten Badung.
Keputusan tersebut diambil di tengah tantangan sektor pertanian Bali yang kian kompleks, mulai dari alih fungsi lahan, minimnya regenerasi petani, hingga ketergantungan pada penggunaan bahan kimia.
Dalam kondisi ini, pertanian organik dinilai sebagai solusi karena lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Meilanie mengaku awalnya hanya mencoba bertani organik, namun kemudian melihat potensi besar di dalamnya.
"Bertani organik tidak harus selalu dimulai dari skala besar. Dari lahan kecil atau bahkan di rumah dengan sistem hidroponik pun bisa, yang penting konsisten dan mau belajar," ujar Meilanie, Rabu, 22 April 2026.
Tak hanya dari sisi produksi, Meilanie juga memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar. Hasil pertanian yang dikelolanya kini dipasarkan melalui media sosial dan telah menjangkau pasar hotel serta restoran di Bali.
Keterlibatan generasi muda, khususnya perempuan, dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Selain berperan sebagai pelaku usaha, perempuan juga menjadi penggerak ekonomi keluarga dan komunitas.
Di tengah isu perubahan iklim dan ketahanan pangan, kebangkitan pertanian organik oleh petani muda perempuan di Bali menjadi harapan baru. Upaya ini tidak hanya memperkuat sektor pangan, tetapi juga menunjukkan bahwa pertanian kini semakin adaptif, modern, dan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan di masa depan.
Editor: Redaktur TVRINews
