
Penulis: Makmur Hamdalah
TVRINews, Cirebon
Dinas Kesehatan Kota Cirebon resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak menyusul peningkatan kasus sejak akhir 2025. Hingga pertengahan April 2026, tercatat 150 kasus suspek, dengan 9 kasus di antaranya terkonfirmasi positif berdasarkan hasil laboratorium.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty, mengatakan penetapan KLB dilakukan setelah kajian epidemiologi pada Februari 2026.
“Pada 20 Februari 2026, setelah dilakukan kajian, Kota Cirebon ditetapkan berstatus KLB campak,” ujarnya saat ditemui TvriNews, Kamis (16/04/2026).
Siti menjelaskan, kasus campak mulai meningkat sejak akhir Desember 2025 dan terus ditemukan hingga saat ini. Secara nasional, sekitar 100 kabupaten/kota sedang menghadapi KLB campak. Di Jawa Barat sendiri terdapat sembilan daerah terdampak, termasuk Kota dan Kabupaten Cirebon.
Sebagai langkah penanganan, Dinas Kesehatan Kota Cirebon melakukan survei cepat di masyarakat dan menggelar imunisasi massal bagi anak usia 9 bulan hingga 13 tahun. Imunisasi dilakukan di sekolah, posyandu, dan puskesmas, dengan capaian mencapai 95 persen.
“Kami sudah melakukan imunisasi massal di berbagai titik, dan cakupannya sekitar 95 persen,” katanya.
Siti menambahkan, peningkatan kasus turut dipengaruhi rendahnya kekebalan kelompok akibat keraguan sebagian orang tua terhadap imunisasi.
“Masih ada orang tua yang terpengaruh informasi di media sosial sehingga enggan mengimunisasi anaknya,” ujarnya.
Mayoritas kasus campak terjadi pada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Sepanjang 2025, tercatat 238 suspek campak dengan 44 kasus positif. Sementara pada 2026 hingga pekan kedua April, terdapat 150 suspek dan 9 positif. Kasus terbanyak ditemukan di wilayah Sitopeng, Kelurahan Argasunya, disusul Kalijaga Permai, Majasem, dan Pegambiran. Dari sisi usia, kasus paling banyak dialami anak 1 hingga 4 tahun.
Status KLB masih diberlakukan karena masa inkubasi virus campak dapat berlangsung hingga 28 hari. Dinas Kesehatan terus memperkuat Outbreak Response Immunization (ORI) untuk menekan penularan.
“Kami terus memperkuat ORI agar penyebaran kasus bisa segera ditekan,” ujar Siti.
Editor: Redaktur TVRINews
