
Penulis: Kalbadri
TVRINews, Sumatera Selatan
Proyek pengembangan jaringan irigasi Air Lemutu di dataran Lubuk Genting, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, ambruk dan tidak dapat difungsikan. Kondisi tersebut menyebabkan puluhan hektare sawah milik petani mengering dan gagal ditanami.
Sedikitnya 63 hektare lahan pertanian di Desa Tanjung Bulan terdampak. Para petani mengaku merugi karena lahan yang biasanya produktif kini tidak memperoleh pasokan air.
Zulkarnain, salah seorang petani setempat, mengatakan kerusakan bangunan irigasi yang baru selesai dibangun itu sangat memukul mata pencaharian masyarakat. Proyek yang diharapkan dapat meningkatkan hasil panen justru membuat mereka tidak bisa bercocok tanam.
“Kami sangat dirugikan karena sawah menjadi kering dan tidak bisa digarap. Biasanya lahan ini menghasilkan padi, sekarang tidak bisa ditanami sama sekali,” ujar Zulkarnain.
Ia menjelaskan, sejak irigasi tersebut ambruk, aliran air terputus total sehingga para petani terpaksa menunda masa tanam pada musim ini.
Kepala Desa Tanjung Bulan, Tarzanudin, juga menyoroti kualitas pengerjaan proyek tersebut. Ia menilai sejak awal sudah terlihat ketidaksesuaian dalam proses pembangunan.
“Kami dari pemerintah desa dan masyarakat merasa dirugikan karena pembangunan irigasi ini tidak berjalan dengan baik. Saat pengerjaan terlihat seperti asal jadi dan tidak sesuai perencanaan,” katanya.
Menurutnya, pemerintah desa sebelumnya telah mengingatkan pihak pelaksana proyek agar bekerja sesuai standar agar manfaat irigasi benar-benar dirasakan masyarakat.
Tidak maksimalnya pembangunan jaringan irigasi Air Lemutu kini turut menjadi perhatian aparat penegak hukum. Tim Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan telah mengamankan dua tersangka yang diduga terlibat dalam kasus gratifikasi terkait proyek tersebut.
Penyelidikan masih terus berjalan untuk mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan proyek yang berdampak langsung pada aktivitas pertanian warga.
Editor: Redaktur TVRINews
