
Petani di Belitung Timur Kembangkan Sawah Apung untuk Hadapi Perubahan Iklim
Penulis: suharli
TVRINews, Belitung Timur
Perubahan cuaca yang tidak menentu mendorong para petani untuk berinovasi agar tetap bisa bertahan dan memperoleh hasil panen yang optimal.
Salah satu inovasi itu dilakukan oleh Mustaghfiri Asror, petani asal Desa Dendang, Kabupaten Belitung Timur, yang berhasil mengembangkan metode sawah apung sebagai solusi menghadapi iklim ekstrem.
Selama tiga tahun terakhir, Asror konsisten menerapkan sistem tanam padi dengan metode rakit apung di atas lahan seluas satu hektare. Pada musim tanam Oktober–Desember 2025 ini, ia kembali menanam sekitar 60 rakit sawah apung.
Menurut Asror, teknik ini merupakan bentuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, terutama menghadapi curah hujan tinggi yang kerap menyebabkan gagal panen di lahan konvensional.
“Sebagai upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, kami menggunakan varietas padi berumur pendek, sekitar 70 hari sudah bisa dipanen. Dengan begitu, bulan Desember nanti kami sudah bisa menikmati hasilnya,” ujarnya.
Asror menjelaskan rakit dibuat dari bahan ringan seperti bambu dan gabus agar bisa mengapung di atas air. Media tanam ditempatkan di atas rakit tersebut, sehingga tanaman padi tetap tumbuh meski lahan tergenang akibat hujan deras.
Dengan perawatan intensif, setiap rakit mampu menghasilkan 4 hingga 6 kilogram gabah.
“Selama perawatannya dilakukan dengan baik, hasil panennya bisa sangat memuaskan,” tambahnya.
Inovasi yang dilakukan Asror ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi petani lain di Belitung Timur untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah kondisi cuaca yang semakin tidak menentu.
Editor: Redaktur TVRINews
