
Penulis: Masrul Fajrin
TVRINews, Surabaya
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Jawa Timur mengungkapkan keterlibatan kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam pendistribusian Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) masih belum optimal.
Dari total 93.729 kader TPK yang tersebar di 38 kabupaten/kota, baru 16.129 kader atau sekitar 17,30 persen yang terlibat aktif dalam program percepatan penurunan stunting tersebut.
Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat peran kader TPK yang terdiri dari kader KB, kader PKK, serta tenaga kesehatan merupakan ujung tombak dalam menjangkau keluarga sasaran hingga tingkat desa dan kelurahan.
Selama ini, kader yang mayoritas perempuan tersebut aktif memberikan edukasi gizi, pendampingan tumbuh kembang anak, hingga penyuluhan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan baduta non-PAUD.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sukamto, mengakui bahwa sinkronisasi antara kader TPK dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) masih menjadi tantangan utama dalam memperluas distribusi MBG 3B.
“Hingga saat ini capaian distribusi MBG untuk sasaran 3B di Jawa Timur telah mencapai sekitar 64 persen. Namun kami menyadari bahwa peran kader TPK masih perlu ditingkatkan. Mereka adalah ujung tombak yang langsung berhadapan dengan keluarga sasaran di lapangan,” ujarnya di Surabaya, Senin 30 Maret 2026.
Ia menjelaskan, dari 1.610 SPPG operasional di Jawa Timur, sebanyak 1.037 SPPG atau sekitar 64,41 persen telah menyalurkan MBG kepada sasaran 3B. Sementara berdasarkan data aplikasi Badan Gizi Nasional, dari 3.208 SPPG operasional, sebanyak 2.612 SPPG atau sekitar 62,72 persen telah melaksanakan distribusi.
“Kami terus melakukan kolaborasi dengan mitra wilayah Badan Gizi Nasional untuk meningkatkan cakupan distribusi sekaligus memperluas peran kader TPK. Program ini merupakan tindak lanjut arahan Menteri Kemendukbangga agar distribusi MBG 3B semakin diperluas sebagai langkah konkret pencegahan stunting,” tambah Sukamto.
Ketua Umum DPD Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB) Provinsi Jawa Timur, Senja Susanti, menyampaikan bahwa sekitar 1.500 penyuluh KB di berbagai daerah terus berperan aktif mendampingi kader TPK dalam pelaksanaan program tersebut.
“Peran utama penyuluh KB adalah memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada masyarakat terkait keberlanjutan program quick wins Kemendukbangga serta mendukung pendistribusian MBG 3B di Jawa Timur. Mereka bekerja bersama Tim Pendamping Keluarga yang terdiri atas kader KB, kader PKK, dan tenaga kesehatan,” ujarnya.
Senja menambahkan, setiap kader TPK memiliki tugas rutin mendampingi minimal 10 keluarga sasaran setiap bulan. Pendampingan tersebut meliputi edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang anak, serta penyuluhan pola konsumsi makanan sehat.
“Melalui kegiatan penyuluhan dan edukasi ini, masyarakat semakin memahami pentingnya Program Bangga Kencana, percepatan penurunan stunting, serta pola konsumsi makanan sehat yang mendukung tumbuh kembang anak. Namun memang dibutuhkan sinkronisasi yang lebih baik agar setiap kader TPK dapat terlibat langsung dalam distribusi MBG 3B,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa prevalensi stunting di Jawa Timur saat ini telah berada di bawah rata-rata nasional, yakni sekitar 14,7 persen.
Meski demikian, percepatan penurunan stunting tetap menjadi prioritas melalui penguatan peran kader dan optimalisasi distribusi MBG 3B sesuai Keputusan Presiden Nomor 115.
Ke depan, diharapkan seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur dapat meningkatkan peran SPPG dan kader TPK agar distribusi MBG 3B semakin merata.
“Sinkronisasi peran kader Tim Pendamping Keluarga sebagai pelaksana distribusi MBG 3B menjadi kunci agar program ini berjalan efektif dan tepat sasaran. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang bekerja langsung di tengah masyarakat,” pungkas Senja.
Editor: Redaktur TVRINews
