
Vladimir Putin dihadapan wartawan menekankan tidak akan tunduk pada AS. (Foto: Vyacheslav Prokofyev/Reuters)
Penulis: Fityan
TVRINews – Moskow
India & Tiongkok Tarik Rem Impor Minyak Rusia; Sanksi Baru AS Langsung Hantam Jantung Pendanaan Perang Kremlin.
Presiden Rusia Vladimir Putin dengan tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan pernah tunduk pada tekanan Amerika Serikat (AS), namun ia mengakui bahwa sanksi ekonomi terbaru Washington dapat menyebabkan "beberapa kerugian" bagi perekonomian Rusia.
Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa dua pelanggan energi terbesar Rusia, Tiongkok dan India, mulai menarik diri dari impor minyak mentah Rusia.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump pada Rabu (22/10) menjatuhkan sanksi terhadap dua produsen minyak terbesar Moskow, Rosneft dan Lukoil, serta hampir tiga lusin anak perusahaan mereka. Tindakan ini merupakan bagian dari upaya intensif untuk mencekik pendapatan minyak vital yang mendanai operasi militer Kremlin di Ukraina. Uni Eropa (EU) juga secara terpisah menyepakati larangan bertahap impor gas alam cair (LNG) Rusia.
Sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil, yang menyumbang hampir setengah dari ekspor minyak mentah Rusia, adalah sanksi pertama yang dikenakan oleh Trump sejak kembali menjabat pada Januari. Langkah ini diharapkan dapat menekan Putin kembali ke meja perundingan.
Reaksi Keras Moskow dan Pengakuan Dampak Ekonomi
Menanggapi sanksi tersebut, Presiden Putin pada Kamis (23/10) menyebut tindakan AS sebagai "tindakan tidak bersahabat yang tidak melakukan apa pun untuk memperkuat hubungan Rusia-Amerika" dan "upaya untuk menekan Rusia" yang ia anggap sia-sia.
"Tidak ada negara yang menghargai diri sendiri yang pernah melakukan apa pun di bawah tekanan," kata Putin kepada wartawan Rusia.
Meskipun ia menilai sanksi baru itu tidak akan berdampak signifikan, ia mengakui, "beberapa kerugian diperkirakan akan terjadi."
Seorang pejabat senior keamanan Rusia yang dikenal dengan retorika garis kerasnya, Dmitry Medvedev, bahkan menyerang lebih tajam. Melalui media sosial, ia menyebut sanksi tersebut sebagai "tindakan perang." "AS adalah musuh kita," tulis Medvedev, "‘Juru damai’ mereka yang banyak bicara kini telah sepenuhnya memulai jalur perang melawan Rusia."
India dan Tiongkok Mulai Berpaling dari Minyak Rusia
Dampak sanksi AS mulai terlihat secara langsung. Reuters melaporkan adanya tanda-tanda awal bahwa pembeli energi terbesar Rusia, Tiongkok dan India, menangguhkan impor energi mereka.
Reliance Industries, pembeli minyak Rusia swasta terbesar di India, mengisyaratkan akan mengurangi atau bahkan menghentikan sementara pembelian. Seorang juru bicara perusahaan mengatakan kepada Reuters:
"Rekalibrasi impor minyak Rusia sedang berlangsung dan Reliance akan sepenuhnya selaras dengan panduan [pemerintah India]."
Sementara itu, beberapa sumber mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaan minyak milik negara Tiongkok telah menangguhkan pembelian minyak mentah Rusia yang diangkut melalui laut, setidaknya untuk jangka pendek. Hal ini dilakukan di tengah kekhawatiran melanggar sanksi baru AS.
Sektor minyak dan gas menyumbang sekitar seperlima dari PDB Rusia. Penurunan tiba-tiba permintaan dari dua pembeli utama ini akan menjadi pukulan telak bagi pendapatan Kremlin.
Igor Yushkov, seorang spesialis energi di Financial University di bawah pemerintahan Rusia, mengakui bahwa sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil akan membuat pelanggan Asia enggan membeli minyak secara langsung.
"Ini akan memaksa perusahaan untuk mengandalkan rantai perantara yang lebih panjang untuk menyewa kapal tanker dan menjual minyak mentah mereka sebuah pergeseran yang akan menaikkan biaya," katanya kepada harian bisnis Kommersant.
Meskipun Moskow memiliki waktu satu bulan untuk bersiap sebelum pembatasan berlaku penuh dan diperkirakan akan menggunakan "Armada Bayangan" yang selama ini digunakan untuk menghindari sanksi, jangkauan sanksi AS sangat luas.
Bagi sebagian besar perusahaan, risiko terputus dari sistem keuangan Barat yang lebih luas mungkin lebih besar daripada manfaat melanjutkan perdagangan dengan Rusia.
Editor: Redaksi TVRINews
