Penulis: Langkah Bahtiar
TVRINews, Blitar
Akibat cuaca buruk yang terjadi selama dua pekan terakhir di Wilayah Blitar, Jawa Timur berdampak negatif bagi para petani cabai.
Mereka mengalami gagal panen lantaran tanaman cabai menjadi layu dan cabai membusuk. Seperti yang dialami Eko Ftria salah seorang petani cabai rawit di Kecamatan Ponggok, Blitar-Jawa Timur.
Cuaca ekstrim yang terus melanda dalam dua pekan terakhir membuat tanaman cabai milik petani menjadi layu dan kering. Akibatnya cabai membusuk dan tidak bisa di panen.
Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, petani terpaksa memanen dini cabai yang masih bisa diselamatkan.
“Ini cuaca panas terik akibatnya pada busuk terus cabainya juga pada pateken mas. Iya busuk juga terus itu gagal panen itu, kami para petani merugi banyak karena sudah keluar biaya besar merawatnta. Terus ruginya dua puluhan juta ini cabai rawit.” Ucap Eko salah satu petani cabai kepada tvrinews.com, Senin 13 Mei 2024.
Kini para petani cabai di Kabupaten Blitar berharap kondisi cuaca ini dapat segera membaik, agar hasil panen cabai bisa kembali membuahkan hasil maksimal.
Menurut petani serangan hama ini muncul setelah Wilayah Blitar dan sekitarnya berganti di musim kemarau. Cuaca yang panas membuat hama patek ini berkembang dan merusak tanaman cabai milik petani.
Ancaman gagal panen membayangi petani cabai. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar petani harus menambah biaya operasional yang ekstra melakukan penyemprotan pestisida akibatnya kini panen cabai menurun hingga 50 persen.
“Jalan satu-satunya adalah lebih maksimal merawat tanaman cabai dengan biaya lebih besar,“ tambahnya.
Jika saat cuaca normal hasil panen petani ini mencapai 5 kwintal namun kini petani hanya memperoleh setengahnya saja.
Akibat turunnya kualitas cabai tersebut membuat harga komoditas ini menurun yakni hanya 15 ribu rupiah per kilogramnya.
Editor: Rina Hapsari
