
Penulis: Ama Boro Huko
TVRINews, Flores Timur
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) Republik Indonesia merilis laporan terbaru terkait aktivitas Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Hingga saat ini, status gunung api tersebut masih berada pada Level II (Waspada).
Secara umum, aktivitas erupsi dan aliran lava di sektor barat gunung dilaporkan mengalami penurunan sejak 24 Februari 2026. Namun, dinamika kegempaan kembali meningkat setelah terjadinya gempa di wilayah Larantuka dan Adonara, Kabupaten Flores Timur, sejak 9 April 2026.
Peningkatan aktivitas kembali terdeteksi pada Minggu, 19 April 2026 pukul 01.31 WITA, menyusul gempa berkekuatan Magnitudo 2,8 dengan intensitas III MMI yang berpusat di Pulau Lembata.
Dalam periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WITA, tercatat 12 kali gempa hembusan, 41 gempa vulkanik dalam, satu gempa tektonik lokal, serta satu gempa terasa dengan skala III MMI. Sementara pada pukul 06.00 hingga 12.00 WITA, terjadi 19 gempa hembusan, sembilan gempa vulkanik dalam, satu gempa tektonik lokal, dan satu gempa terasa dengan skala II MMI.
Secara kumulatif, data periode 1–18 April 2026 menunjukkan aktivitas kegempaan yang cukup tinggi. Tercatat 682 gempa erupsi, 2.053 gempa hembusan, 17 gempa guguran, serta berbagai jenis gempa lainnya, termasuk gempa tektonik lokal dan jauh.
Secara visual, kondisi gunung terpantau jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis sampai tebal, mencapai ketinggian 10 hingga 500 meter dari puncak. Kolom erupsi juga teramati dengan tinggi 100 hingga 500 meter, berwarna putih, kelabu, hingga hitam.
Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental, aktivitas vulkanik menunjukkan peningkatan, khususnya pada kegempaan vulkanik dalam pasca gempa terbaru. Meski demikian, status aktivitas masih berada pada Level II (Waspada).
Masyarakat di sekitar gunung maupun pengunjung diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari pusat erupsi.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengingatkan adanya potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas di beberapa sektor, termasuk selatan, tenggara, barat, dan timur laut gunung.
Selain itu, masyarakat juga diminta menggunakan masker pelindung untuk menghindari dampak abu vulkanik terhadap pernapasan, serta melindungi sumber air bersih dari kontaminasi abu.
Editor: Redaktur TVRINews
