Penulis: Obi Tani
TVRINews, Ende
Tatkala sang mentari kembali ke peraduannya, anak-anak di Desa Wolokota dengan sendirinya mencari lampu pelita untuk dinyalakan. Biasanya lampu pelita di setiap rumah berjumlah lebih dari satu.
Kebiasaan menggunakan lampu pelita sudah mereka jalani selama tujuh puluh tahun. Mereka menjalani suasana itu dengan hati yang gembira. Ada saja suasana kehangatan yang tercipta dari cahaya lampu pelita. Ada banyak kisah yang tersusun rapi dalam benak anak bangsa, yang telah menjadikan lampu pelita sebagai sahabat setia menemani pekatnya malam. Menemani disaat mereka belajar untuk negeri ini.
Di suatu malam, di Desa Wolokota terlihat anak bangsa yang sedang belajar demi meningkatkan daya pikir dan mutu pengetahuan mereka. Di sana, di balik dinding bambu, di bawah atap rumah seng, seorang guru dan anak-anaknya melewati malam yang senyap dibawah naungan lampu pelita, begitu semangat ia membantu anak-anak untuk belajar.
Mereka duduk bertiarap, mencoret selembar kertas putih kosong dibantu cahaya pelita dari kaleng bekas. Senyumnya, bukti perjuangan meraih prestasi tanpa aliran listrik negara.
Belajar dengan derasnya angin laut seakan cemburu dan berusaha memadamkan api lampu pelita itu ketika melihat mereka semakin bergairah dalam belajar. Semangat terus berkobar, itulah perjuangan sesungguhnya.
Indonesia memang sudah merdeka, tapi tidak bagi anak kecil yang hidup jauh dari kota. Jalan yang sunyi, hitam pekat malam membuat suasana Desa Wolokota senyap. Tidak seperti di kota, jalanan dihiasi lampu-lampu modern.
Suara kerinduan Mosalaki Ria Bewa Desa Wolokota, Alkarius M.Hari untuk masyarakat adat atau yang dalam bahasa setempat disebut "Ana Kalo Fai Walu" begitu mendalam, ia berharap di masa kelak, anak cucunya, merdeka dari lampu pelita, mendapatkan cahaya listrik.
"Kami butu lapu to ola ja,untuk persoalan menyangkut no tana watu, kami pati no ate, karena selama Ina l, Mai Indonesia merdeka kami pake ke'e lampu pelita, pake no sumbu . Kami ono dema-dema, demi ngala kiwa Ina listrik maso " pungkasnya dalam bahasa setempat yang artinya "Kami butuh lampu untuk penerangan, persoalan untuk tempat atau lokasi akan kami beri secara ikhlas, karena sejak Indonesia merdeka, kami menggunakan lampu pelita, menggunakan daun kelapa. Kami mohon dengan sungguh, kalau bisa tahun ini, listrik masuk ke desa kami".
Satu-satunya penerangan yang diandalkan Masyarakat Desa Wolokota adalah lampu pelita. Untuk mendapatkan kebutuhan minyak tanah, warga kampung pun merasa kesulitan karena akses ke kota yang jauh, dan akses jalan pun belum ada peningkatan, sehingga warga masyarakat harus melewati bukit dan lembah, terkadang mereka mengikuti jalur laut jika tidak terjadi ombak yang besar .
Menggunakan lampu pelita secara terus menerus tentunya dapat mengganggu pernapasan dan mata anak-anak saat belajar dan membaca. Oleh karena itu ketersedian kebutuhan listrik akan menjadi jendela membuka peradaban.
Tokoh muda Desa Wolokota Fidelis, mengungkapkan bahwa satu kecemasan yang ia rasakan adalah lampu pelita ini akan membuat terganggu masalah pernapasan anak-anak. Ia berharap, suasana seperti ini akan segera berakhir, sehingga kerinduan untuk bertemu dengan aliran listrik negara bisa segera terobati.
"Kami masih pakai minyak tanah, anak-anak di desa kami belajar dengan menggunakan lampu pelita, mereka kesulitan belajar dengan lampu pelita, mata perih akibat asap, alhasil belajar mereka pun tidak maksimal.”
Kristin, seorang siswa sekolah dasar di kampung itu, mengaku kesulitan belajar pada malam hari. Ia harus bertarung dengan asap pelita demi membaca materi pelajaran yang sudah dicatat di bukunya. Ia mengaku sudah sejak lama belajar dibantu penerangan pelita. Meski kesulitan, ia tak pernah malas untuk belajar.
“Dari kelas satu sampai kelas lima, saya belajar pakai pelita terus. Saya kadang pergi belajar di keluarga yang rumahnya di kota. Di sana ada listrik. Di sana saya bisa belajar dengan nyaman,”
Dibalik kisah lampu pelita, sejuta ucapan terima kasih juga disampaikan oleh warga Desa Wolokota, sebab saat ini melalui program Tentara Manunggal Membangun Desa, mereka begitu terbantu untuk akses jalannya. Kerjasama tentara dan masyarakat dalam membangun akses jalan ini juga merupakan kerinduan yang begitu lama dari masyarakat Desa Wolokota.
Editor: Redaktur TVRINews
