Penulis: Abu Sahubawa
TVRINews, Kota Ambon
Salah satu kearifan lokal daerah yang di lakukan turun temurun di Negeri Latuhalat kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, Maluku adalah tradisi timba laur. Tradisi timba laur biasanya dilakukan pada setiap akhir bulan Maret setiap tahunnya. Tradisi telah di lakukan turun temurun ratusan tahun lampau oleh warga masyarakat Latuhalat.
Saat musum tiba masyakat yang berada di Pesisir Negeri Latuhalat tumpah ruah untuk menimbah laur. Mulai dari anak anak orang dewasa maupun orangtua berbaur untuk menimbah laur atau cacing laut.
Cacing laut akan muncul di permukaan laut ketika terkena cahaya penerangan. Tradisi ini bisanya dilakukan mulai dari jam 07.00 WIT s.d jam 09.00 WIT malam .
Laur atau cacing laut di ketahui memilki kandungan protein yang sangat tinggi untuk kesehatan. Namun disarankan untuk tidak dikonsumsi dalam jumlah yang banyak. Salah satu warga masyarakat latuhalat Edo Latuhihin mengungkapkan tradisi timba laur ini biasanya di lakukan pada malam hari saat bulan mulai mulai nampak sebagiannya.
"laor ini ada kita bilang dalam 1 tahun cuman ada 1 kali , kita ambil hasilnya , biasa kalau kita ambil hasilnya itu di Bulan Maret mau memasuki Bulan April , jadi kalau mau ambil itu biasanya kita bilang bulan tapele 2 malam yang artinya bulan gelap 2 malam , kita dating rame rame untuk timba laor lalu bawa pulang untuk kita nikmati sama – sama," ungkap Edo Latuhihin salah satu Warga Latuhalat yang mengikuti tradisi ini.
Karena rasa penasaran bagimana cara untuk menimba laur Dokter Lusi Lambiombir juga ikut seta menimbah laur. Tata cara menimba laur hanyalah memakai alat sederhana seperti tapis ayah atau maupun alat penimba laur yang di buat warga. Dokter Lusi menyebut laur selain memiliki kandungan protein yang sangat tinggi juga memiliki nilai manfaat bagi kesehatan dan ketahanan tubuh.
"Pertama, budaya itu sangat amat harus tetap dilestarikan ,karena budaya ini mempersatukan kita semua dari Latuhalat , air louw, kita bisa kumpul sama- sama makanannya juga kalau diolah bisa enak bisa digoreng , jadi saya ras abudaya ini jangan pernah hilang dan ditinggalkan , ayo kita budayakan," Jelas Dokter Lusi Lambiombir.
Saat musim tiba, tradisi timba laur ini telah menjadi bagian dari aktifitas masyarakat setiap tahunnya. Tidak semua orang mampu meracik laur menjadi makanan yang memilki rasa makanan khas tersendiri kecuali di olah dengan tangan tangan trampil dan berpengalaman.
Editor: Redaktur TVRINews
