Penulis: Ambi
TVRINews, Kabupaten Sumbawa Barat
Tambang Batu Hijau yang berlokasi di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, resmi memasuki Fase 8 setelah penyelesaian Fase 7 pada akhir 2024. Dengan total cadangan mineral mencapai sekitar 460 juta ton, fase ini diperkirakan akan memperpanjang usia operasional tambang hingga tahun 2030.
Vice President Corporate Communications PT Amman Mineral Internasional Tbk, Kartika Octaviana, menyampaikan bahwa kegiatan pengupasan batuan penutup telah dilakukan sejak 2021 sebagai bagian dari persiapan transisi ke fase baru.
“Pada awal transisi ini, produksi dimulai dari sisi terluar dan teratas pit Batu Hijau yang memiliki kadar logam rendah, dan akan dilanjutkan ke bagian dalam yang mengandung bijih berkadar lebih tinggi. Produksi pun akan terus meningkat seiring berjalannya waktu,” jelas Kartika Octaviana, Sabtu (5/7/2025).
Penambangan Fase 8 merupakan bagian dari upaya perusahaan menjaga kesinambungan operasi serta optimalisasi konservasi mineral. Sejak 2020, kegiatan pengeboran intensif berhasil menemukan cadangan baru yang memungkinkan perpanjangan masa operasional tambang hingga lima tahun ke depan. Langkah ini juga diyakini memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan daerah, serta kontribusi terhadap penerimaan negara.
Fase 8 hadir di tengah upaya global menuju transisi energi bersih, di mana tembaga—komoditas utama dari Tambang Batu Hijau—memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi rendah karbon.
“Lembaga riset global Wood Mackenzie memperkirakan permintaan terhadap tembaga akan terus meningkat, seiring berkembangnya kendaraan listrik dan infrastruktur energi terbarukan,” tambah Kartika.
Perusahaan juga menyatakan komitmennya terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Penambangan Fase 8 dijadwalkan berlangsung hingga 2030, dengan potensi pemanfaatan stockpile hingga 2033, sebelum beralih ke proyek pengembangan Cebakan Elang yang direncanakan beroperasi hingga 2046.
Dari sisi keselamatan kerja, PT Amman Mineral menegaskan keseriusannya melalui keberadaan Tim Tanggap Darurat atau Fire Emergency Services (FES). Tim ini telah dibentuk sejak awal berdirinya perusahaan pada 2016 dan memiliki peran strategis dalam menjaga kelancaran serta keamanan operasional tambang.
“Selain bertugas merespons insiden, FES secara aktif terlibat dalam pengawasan proyek-proyek berisiko tinggi, pencegahan risiko kecelakaan, hingga memberikan pelatihan kedaruratan kepada karyawan maupun masyarakat sekitar tambang,” tutur Kartika Octaviana.
Tim FES terdiri dari puluhan personel profesional yang bekerja dalam tiga shift, tersebar di delapan pos tanggap darurat di area tambang. Di luar kondisi darurat, mereka tetap menjalankan pelatihan rutin, termasuk sertifikasi formal dan simulasi bulanan di seluruh lokasi operasi. Kesiapsiagaan ini disebut mampu memastikan respons cepat di seluruh titik operasional.
Selain itu, tim ini juga aktif dalam misi kemanusiaan, baik di tingkat lokal maupun nasional. FES tercatat terlibat dalam penanganan berbagai bencana seperti gempa Lombok pada 2018, evakuasi di Palu, banjir di Bima pada 2021, serta gempa Cianjur pada 2022. Seluruh operasi tersebut dilakukan dalam koordinasi bersama BNPB, BPBD, dan BASARNAS guna memastikan efektivitas penanganan di lapangan.
Baca Juga: Polda Jatim Buka Posko Informasi Korban KMP Tunu Pratama di Pelabuhan Ketapang
Editor: Redaksi TVRINews
