
Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jakarta
Di tengah stigma kehidupan jalanan yang kerap dilekatkan pada komunitas punk, sekelompok anak muda di Gunungkidul justru menempuh jalan berbeda dengan beralih menjadi petani dan membangun masa depan dari sektor pertanian.
Komunitas Petani Punk ini didirikan oleh Pratisna Sibag pada 2018. Gerakan tersebut lahir dari keresahan melihat semakin sedikitnya generasi muda yang tertarik menggarap lahan pertanian.
“Waktu itu kami seperti tidak sadar. Kami justru menertawakan petani-petani tua di sawah. Tapi setelah itu kami berpikir, 10 sampai 20 tahun ke depan, siapa yang akan bertani?” ujar Sibag.

Kesadaran tersebut menjadi titik balik. Dari yang sebelumnya hidup di jalanan, mereka mulai belajar bertani dari nol, mulai dari mencangkul hingga merawat tanaman. Awalnya hanya sekitar 40 anak jalanan yang bergabung, namun kini berkembang menjadi lebih dari 120 pemuda di Padukuhan Kalangan.
Komunitas ini membawa misi sederhana, yakni membuktikan bahwa kehidupan yang layak bisa dibangun dari tanah sendiri tanpa harus merantau ke kota besar.
Namun, perjalanan mereka tidak mudah. Sibag mengungkapkan bahwa mereka sempat mengambil risiko besar demi memulai usaha pertanian.
“Kami sampai menggadaikan sertifikat tanah orang tua. Jujur kami takut, kalau gagal keluarga kami bisa kehilangan tempat tinggal. Tapi saat itu kami memilih untuk mencoba,”jelasnya.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Mereka berhasil panen, melunasi tanggungan, dan mendapatkan kepercayaan masyarakat. Sejumlah lahan tidur kemudian diserahkan kepada komunitas untuk dikelola, dengan luas mencapai 800 hingga 1.500 meter persegi.
Hasil pertanian tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan anggota, tetapi juga mendukung kegiatan sosial masyarakat setempat.
Kini, Petani Punk memasuki babak baru dengan terlibat dalam program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pemasok bahan pangan.
Bagi mereka, keterlibatan ini bukan sekadar peluang ekonomi, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial untuk menjaga kualitas program.
“Kalau ada yang tidak benar, kami akan sampaikan. Tapi kalau sudah berjalan baik, tentu akan kami dukung. Kami ingin ikut menjaga program ini tetap berjalan dengan baik,” tegas Sibag.
Dengan peran tersebut, Petani Punk tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan lokal, tetapi juga menjadi simbol perubahan sosial. Dari kelompok yang dulu dipandang sebelah mata, mereka kini hadir sebagai petani, penggerak komunitas, sekaligus bagian dari pengawasan program publik.
Editor: Redaksi TVRINews
