
Penulis: Putu Ratna
TVRINews, Bangli
Dalam rangka menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili pada 17 Februari 2026, Desa Wisata Penglipuran menghadirkan pementasan budaya Barong Landung bagi para wisatawan. Atraksi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pesan akulturasi budaya dan persatuan yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat Bali.
Pementasan Barong Landung digelar di kawasan utama desa adat yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terbersih di dunia tersebut. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang interaksi budaya antara masyarakat lokal dengan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Melalui atraksi ini, pengunjung diajak memahami nilai sejarah dan filosofi di balik kesenian tradisional Bali yang sarat akan makna toleransi serta harmoni.

Manager Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, menjelaskan bahwa Barong Landung merupakan simbol akulturasi budaya yang telah hidup lama di Bali. Secara historis, kesenian ini kerap dikaitkan dengan kisah Raja Sri Jaya Pangus dari Kerajaan Balingkang yang menikah dengan putri Tiongkok, Kang Cing Wie. Figur Barong Landung yang berpasangan berwujud raksasa laki-laki dan perempuan, melambangkan perpaduan dua budaya berbeda yang hidup berdampingan secara harmonis di Pulau Dewata.
“Pementasan ini bukan sekadar hiburan, tetapi wujud pelestarian warisan budaya leluhur. Kami ingin menunjukkan bahwa pariwisata di Penglipuran tumbuh seiring dengan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya,” ujar Sumiarsa.
Ia menegaskan bahwa melalui momentum Imlek 2026, Desa Wisata Penglipuran ingin menyampaikan pesan bahwa pariwisata bukan hanya tentang jumlah kunjungan, melainkan tentang bagaimana budaya dijaga, dirawat, dan dihormati. Akulturasi yang tercermin dalam Barong Landung dinilai sangat relevan dengan semangat kebersamaan dan toleransi yang menjadi esensi perayaan Imlek.

Kabupaten Bangli, tempat Desa Penglipuran berada, selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan pariwisata berbasis budaya dan desa adat di Bali. Penglipuran sendiri kerap menjadi contoh sukses pengelolaan desa wisata berbasis masyarakat yang mampu menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan pelestarian lingkungan.
Pada perayaan Imlek 2026, jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Penglipuran tercatat mencapai sekitar 4.500 orang per hari. Angka tersebut melampaui target yang telah ditetapkan oleh pengelola desa. Lonjakan kunjungan ini dipengaruhi oleh tingginya minat wisatawan untuk menikmati suasana perayaan yang memadukan nuansa budaya Bali dengan sentuhan tradisi Tionghoa.
Pemerintah daerah berharap peningkatan kunjungan tersebut memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat setempat, mulai dari pelaku usaha homestay, pedagang cendera mata, hingga pelaku UMKM kuliner tradisional. Selain itu, momentum ini juga dinilai mampu memperkuat citra Bangli sebagai destinasi wisata budaya yang autentik dan berkelanjutan.
Dengan menghadirkan pertunjukan Barong Landung dalam perayaan Imlek, Desa Wisata Penglipuran menegaskan komitmennya untuk terus menjaga harmoni antarbudaya. Langkah ini sekaligus menjadikan warisan leluhur sebagai fondasi utama dalam pengembangan pariwisata yang berkarakter serta berkelanjutan.
Editor: Redaksi TVRINews
