
Sebuah produk UMKM fesyen mengusung tren keberlanjutan lingkungan (Foto: Hanifa)
Penulis: Hanifa Paramitha Siswanti
TVRINews, Bandung
Dalam setiap jalinan anyaman, Rina memilin harapan. Perempuan dari Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung Barat ini merangkai interaksi dengan alam melalui rotan.
Ditemui di helatan Pasar Seni ITB 2025, Rina menata berbagai furnitur rotan berbentuk kursi, pot bunga, keranjang, hingga wadah hampers. Di bawah label Wonderful Rotan, ia bersama Agus, suaminya, mendirikan lini UMKM kriya tersebut sejak tahun 2022.
Produk kriya rotan Jawa Barat diminati pasar nasional (Foto: Hanifa)
Rina mengungkapkan pemasaran terhadap pasar perseorangan menjadi rintangan yang dihadapi. Selama ini, Rina masih mengandalkan skema ritel bersama beberapa hotel dalam memasarkan produknya.
“Tantangannya ada di pola pikir masyarakat. Mereka kadang masih mempertanyakan untuk apa menggunakan produk rotan, padahal ini bisa awet puluhan tahun kalau dirawat,” ujarnya.
Menghadapi hal tersebut, Rina fokus terhadap kualitas dan memberikan jasa servis sebagai layanan purnajual setiap produknya.
Tantangan serupa juga dialami Nurdini, pendiri dan pemilik label UMKM batik Dama Kara. Bagi Nurdini, filosofi batik tidak sekadar cerita masa lalu, tetapi juga sebuah kebanggaan dan menjadi nilai masa depan.
“Tantangan kami adalah edukasi masyarakat yang lebih memilih batik printing karena murah dan diproduksi massal. Batik tradisional itu melalui proses cukup panjang. Keaslian dan keunikannya tidak bisa digantikan dengan printing,” katanya.
Menurut Nurdini, batik tradisional memiliki pembeda dengan kain dari luar negeri seperti proses pembuatan yang menggunakan cap tembaga, motif, lilin malam, hingga nilai dan cerita yang terkandung di dalamnya.
Nurdini terinspirasi dari motif khas seperti Papua atau Lasem yang kemudian dipadukan gaya kontemporer agar bisa dipakai sehari-hari dan diterima generasi muda.
Dalam mengembangkan lini usaha, Nurdini juga merangkul penjahit dan perajin lokal, bahkan mengangkat karya gambar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menjadi motif produk sandangnya.
Semangat berkreasi dan pemberdayaan di lini UMKM fesyen pun dilakukan label Sesasesa. Sejak berdiri pada tiga tahun lalu, label ini memberdayakan para ibu rumah tangga di sekitar kawasan Cijambe Kota Bandung untuk memproduksi kemeja, luaran, aksesoris, dan tas dengan konsep upcycle fashion.
Berawal dari kesadaran bahwa fesyen adalah penyumbang limbah tekstil terbesar, Sesasesa memanfaatkan perca dan sisa kain yang masih layak menjadi produk fesyen baru. Penggunaan slogan "Runtah Jadi Kanyaah" juga menegaskan tren fesyen yang fokus dalam keberlanjutan lingkungan.
"Tantangannya adalah menjaga konsistensi kualitas jahitan tangan dan memilah perca agar benar-benar bermanfaat dan tidak menjadi sampah lagi," ungkap Rasti selaku product development Sesasesa.
Jejak Studi
Kiprah ketiga perempuan dalam masing-masing kreasinya tersebut mengukuhkan gambaran kawasan Bandung Raya dikenal dengan pergerakan ekonomi kreatifnya, terutama sub sektor fesyen dan kriya.
Data dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat mengungkapkan, secara umum di Jawa Barat, fesyen dan kriya menjadi sub sektor yang paling menonjol di samping animasi, desain, kuliner, musik, dan literasi.
Fesyen dan kriya memiliki porsi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Jawa Barat sebagai salah satu episentrum industri ekonomi kreatif nasional.
Penelitian yang dilakukan Ariadne dkk (2020) dan Susanti dkk (2024) mengungkapkan seni kriya di Jabar menjadi wadah inovasi pelestarian nilai budaya lokal oleh para pelaku ekonomi kreatif terutama di masa pandemi Covid-19.
Pemberdayaan potensi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal ini pun semakin masif melalui strategi pengembangan teknologi informasi.
Yan Yan Sunarya, dosen program studi kriya Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam chapter buku “Branding Strategy Jawa Barat Berbasis Ekonomi Kreatif Potensi Pusat Pariwisata" menyebutkan, terdapat beberapa peluang inovasi dalam fesyen di Jawa Barat.
Peluang itu adalah pengembangan pelestarian budaya dan identitas lokal, eksplorasi terhadap keunggulan material, serta pemberdayaan lingkungan dan masyarakat.
Komunitas sebagai Inkubator Ide
Ketua Womenpreneur HIPMI Bandung, Weny Windya Hapsary, menyatakan komunitas menjadi representasi para pelaku UMKM yang berjuang di lapangan. Ia menilai strategi pembangunan ekonomi kreatif harus berpijak pada pemberdayaan komunitas.
“Komunitas bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi inkubator ide, sistem pendukung, sekaligus ruang publik sesungguhnya bagi pengusaha di bidang ekonomi kreatif. Komunitas harus menjadi aktor utama dalam menciptakan ekosistem inovatif," tuturnya.
Menurut Weny, ekonomi berkelanjutan mustahil tercapai jika hanya fokus pada penciptaan nilai tanpa turun langsung ke akar rumput.
Memberikan ruang bagi para pelaku UMKM, terutama di sektor kriya dan fesyen yang didominasi perempuan, akan berujung pada pemberdayaan ekonomi keluarga dan komunitas secara luas.
Ia meyakini warisan kekayaan budaya Jawa Barat dapat menjadi modal untuk bersaing di pasar global.
"Kami melihatnya sebagai peluang bisnis dan sarana melestarikan dan memperkenalkan kekayaan budaya Jabar. Kekayaan budaya ini jadi modal utama dan dapat diubah menjadi nilai ekonomi," ujarnya.
Weny menambahkan, HIPMI secara aktif memfasilitasi sub sektor fesyen dan kriya melalui kolaborasi program.
Pendekatan yang dilakukan termasuk program peningkatan kapasitas diri bagi pengusaha perempuan yang mencakup wicara publik, lokakarya produk, dan pengetahuan bisnis termasuk pemasaran secara digital.
"Pendekatan dengan perempuan tentunya beda, misalnya penggabungan tradisi inovasi antara seni dan kerajinan tradisional yang dipadukan dengan desain kontemporer. Dari situ bisa berkelanjutan. Jadi budaya lokal tidak hanya dicintai, tapi juga dirayakan," imbuhnya.
Perhatian Pemerintah Daerah
Ketua Dekranasda Jawa Barat, Noneng Komara Nengsih, menyampaikan kekuatan utama UMKM kriya dan fesyen berada pada estetika produk dan nilai budaya di baliknya.
Keunikan dan proses yang tidak mudah ditiru menjadi nilai jual utama produk Jabar di pasar ekspor.
“Kerajinan ini hanya ada di masyarakat kita yang tidak mudah ditiru, termasuk dalam prosesnya. Ada unsur budaya, alam, keunikan, originalitas yang menjadi nilai tambah produk. Setiap motif dan anyaman itu punya cerita tentang asal daerahnya. Ketika anak muda memakai wastra khas Jabar, mereka sedang membawa identitas budaya ke ruang publik,” paparnya.
Noneng menambahkan, Dekranasda mendorong kolaborasi lintas sektor. Program “Bangga Buatan Indonesia” misalnya, menjadi ruang promosi produk tenun, anyaman, dan batik lokal agar dikenal luas.
Melalui kurasi dan pameran internasional, Dekranasda ingin mempertemukan pengrajin lokal dengan pasar global tanpa kehilangan karakter kelokalannya.
"Selain untuk peningkatan ekonomi masyarakat, kegiatan ini juga menjadi promosi budaya yang beragam dan luhur melalui aneka produk, seperti batik, kayu, logam, batu, bambu, dan rotan. Bahan bakunya ada di Jawa Barat. Dekranasda juga mendorong UMKM kriya dan fesyen ini untuk melakukan promosi secara digital," jelas Noneng.
Salah satu wujud dukungan Dekranasda Jabar adalah melalui kegiatan besar seperti Karya Kreatif Jabar yang digelar pada Juli 2025 lalu di Kota Bandung. Gelaran bersama Bank Indonesia ini melibatkan ratusan UMKM dan menyedot atensi puluhan ribu pengunjung.
Dalam ajang tersebut, para kepala daerah hingga pimpinan lembaga turut menggunakan produk UMKM lokal dalam peragaan busana.
Akselerasi Digitalisasi
Melengkapi sinergitas pemerintah daerah dengan komunitas, kebijakan pengembangan UMKM turut dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). Hal tersebut sejalan dengan amanat UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) no. 4/2023 dalam memelihara stabilitas sistem pembayaran.
Sebagai otoritas moneter, BI mendorong pemanfaatan ekonomi dan keuangan digital yang inklusif melalui Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan (SIAP), QRIS, dan BI-Fast.
Data menunjukkan, sepanjang Januari-Agustus 2025, transaksi QRIS di Jabar tercatat mencapai Rp148,95 triliun atau tumbuh 91,96% year-on-year (yoy). Jumlah volumenya adalah 1,59 juta transaksi. Hal ini menempatkan Jawa Barat menjadi pengguna tertinggi nasional dengan share 22,6 persen pengguna dan 21,5 persen merchant per Agustus 2025.
Selain itu, BI-Fast memungkinkan transaksi real-time termasuk di luar jam operasional bank.
"Adopsi digital di Jabar terbilang sangat tinggi. Inovasi ini memudahkan pelaku UMKM memiliki jejak keuangan yang kredibel. Pembayaran lebih efisien, sehingga modal usaha dapat segera berputar," ujar Muslimin Anwar selaku Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat.
Muslimin menambahkan, UMKM juga akan lebih mudah mendapatkan akses pembiayaan perbankan, efisiensi transaksi, dan berpeluang memperluas jangkauan pemasaran termasuk ekspor.
Potensi besar juga hadir dari QRIS Cross-Border, sehingga UMKM dapat menjangkau wisatawan internasional.
Menurut kajian lembaga keuangan dunia OECD dan IMF, digitalisasi meningkatkan produktivitas UMKM sebesar 17-25 persen.
"Khusus untuk subsektor fesyen dan kriya yang sangat bergantung pada strategi branding dan pemasaran, kami kurasi ribuan UMKM menjadi binaan BI untuk peningkatan kapasitas. BI juga kerjasama dengan lokapasar untuk pemasaran lebih luas,” jelasnya.
Peningkatan kapasitas UMKM fesyen dan kriya binaan BI diwujudkan dalam beberapa program.
Salah satu UMKM kriya yang mendapatkannya adalah Wonderful Rotan melalui kunjungan ke sentra rotan di Cirebon dan fasilitasi pameran level nasional.
Fasilitasi pameran serupa juga didapatkan UMKM fesyen Sesasesa bahkan hingga ke Turki dan Hongkong melalui skema kerjasama kementerian. Lini usaha tersebut juga diberi dukungan lokakarya pemasaran digital dan kelas peningkatan kualitas produk agar bernilai ekspor.
Muslimin mengungkapkan, saat ini secara nasional sebanyak 75% dari 90 kelompok UMKM subsistem BI adalah perempuan. Hal tersebut juga menjadi dasar kebijakan pengembangan UMKM yang inklusif, mandiri, dan berdaya saing.
“Kami sudah memberikan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial senilai Rp384 triliun hingga minggu pertama September. Dengan sinergi pemerintah, pengusaha, dan lembaga keuangan, pertumbuhan ekonomi akan terakselerasi lebih cepat, khususnya bagi UMKM,” ujarnya optimistis.
Editor: Redaktur TVRINews

Produk kriya rotan Jawa Barat diminati pasar nasional (Foto: Hanifa)