Penulis: Puji Anugerah Leksono
TVRINews, Probolinggo
Desa Pajurangan, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil garam di pesisir Pantai Utara Jawa. Setiap setengah tahun, desa ini mampu memproduksi hingga seratus ton garam. Namun, tahun ini para petani harus berpacu dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dan persaingan produksi dari daerah lain.
Berdasarkan pantauan TVRINews, tampak hamparan tambak garam di Kecamatan Gending mulai mengering, sementara para petani sibuk mendulang butiran kristal putih yang menggunung di atas lahan. Dua di antaranya, M. Nizar dan Sukmawi, mengaku hasil panen kali ini menurun cukup drastis.
"Iya, kita harus mengejar cuaca agar bisa panen sesuai harapan. Lahan ukuran 13 kali 65 meter ini biasanya bisa menghasilkan lebih dari 9 ton, tapi sekarang hanya sekitar 4 ton," ujar M. Nizar, petani garam asal Desa Pajurangan, dikutip Rabu, 22 Oktober 2025
Hal senada disampaikan Sukmawi, petani lainnya, yang menyebut cuaca ekstrem menjadi faktor utama penurunan produksi.
"Musim hujan yang berkepanjangan dan kemarau yang berlangsung membuat produksi garam menurun. Cuaca di sini tidak menentu, kadang hujan, kadang panas," ungkapnya.
Meski begitu, kualitas garam asal Desa Pajurangan tetap diakui bagus. Para petani membedakan hasil panennya dalam beberapa kategori, mulai dari kualitas super hingga KW1 dan KW2. Saat ini, harga garam di tingkat petani dijual sekitar Rp1.400 per kilogram.
Untuk meningkatkan hasil produksi, sebagian petani mulai menerapkan teknologi sederhana seperti geomembran, yaitu alas plastik di dasar tambak. Menurut mereka, cara ini mampu menjaga kemurnian garam agar tidak tercampur tanah dan mempercepat proses pengeringan. Hasilnya lebih putih dan bersih, kualitasnya juga naik.
Sekitar separuh warga Desa Pajurangan menggantungkan hidupnya dari sektor ini. Dengan produksi mencapai seratus ton setiap enam bulan, mereka mengaku bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.
"Alhamdulillah, dari hasil garam ini kami bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak," ujar Sugianto, petani garam lainnya.
Para petani di Desa Pajurangan bertekad untuk terus berbenah dan mengikuti perkembangan industri garam modern agar mampu bersaing dengan daerah lain serta mendukung terwujudnya swasembada garam nasional.
Editor: Redaktur TVRINews
