
dok. BMKG
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Surabaya
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem selama periode arus mudik Lebaran 2026 di wilayah Jawa Timur.
Langkah ini dilakukan menyusul peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda terkait potensi peningkatan hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang pada periode 11–20 Maret 2026.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, serta atmosfer yang labil sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan.
Potensi cuaca ekstrem ini berisiko menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, serta dapat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama selama arus mudik Lebaran. Oleh karena itu, operasi modifikasi cuaca dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk mengendalikan intensitas curah hujan di wilayah rawan bencana.
Operasi Modifikasi Cuaca yang berpusat di Posko Lanudal Juanda ini dilaksanakan pada 16 hingga 25 Maret 2026. Hingga hari ketiga pelaksanaan, tim gabungan telah melakukan tujuh sorti penerbangan dengan total durasi 14 jam 1 menit.
Dalam operasi tersebut, sebanyak 6.800 kilogram bahan semai digunakan, terdiri dari 1.000 kilogram natrium klorida (NaCl) dan 5.800 kilogram kalsium oksida (CaO) yang disemaikan ke awan potensial di wilayah Jawa Timur.
Supervisi BMKG, Alif Kurniawan, menjelaskan bahwa operasi modifikasi cuaca memberikan hasil yang cukup signifikan dalam mengurangi intensitas hujan.
“Langkah aktif ini terbukti efektif menurunkan rata-rata curah hujan hingga 40 persen dibandingkan kondisi normal tanpa intervensi,”kata Alif dalam keterangan tertulis, Sabtu, 21 Maret 2026.
Evaluasi sementara juga menunjukkan kejadian hujan lebat menurun hingga sekitar 70 persen, sedangkan hujan sangat lebat berkurang sekitar 25 persen. Distribusi hujan pun menjadi lebih merata dan cenderung turun dengan intensitas ringan sehingga mengurangi risiko gangguan pada jalur mudik.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak yang meninjau langsung kesiapan personel dan armada di Posko OMC Lanudal Juanda mengapresiasi pelaksanaan operasi tersebut. Menurutnya, penggunaan teknologi modifikasi cuaca menjadi langkah mitigasi yang efektif untuk melindungi masyarakat dari risiko bencana hidrometeorologi.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Juanda Taufiq Hermawan menjelaskan strategi penyemaian awan dilakukan berdasarkan analisis radar cuaca secara real-time. Bahan CaO digunakan untuk menekan pertumbuhan awan di daratan, sedangkan NaCl disemaikan pada awan di wilayah laut agar hujan turun lebih awal sebelum mencapai daratan.
Berdasarkan prakiraan BMKG, potensi hujan di Jawa Timur masih akan berlangsung hingga 23 Maret 2026 dengan intensitas ringan hingga sedang, meskipun masih terdapat potensi hujan lebat di sebagian wilayah. Karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat, khususnya para pemudik, untuk tetap waspada dan memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama BMKG berharap langkah mitigasi ini dapat membantu menjaga kelancaran arus mudik serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat selama perayaan Idulfitri.
Editor: Redaksi TVRINews
