
Penulis: Puji Anugerah Leksono
TVRINews, Situbondo
Sajian kuliner khas penggugah selera banyak tersebar di sepanjang jalur Pantura, Kabupaten Situbondo. Salah satu yang mencuri perhatian adalah sate ayam berukuran mungil yang dikenal dengan sebutan sate “lalat”.
Nama tersebut kerap memancing rasa penasaran. Meski terdengar ekstrem, sate “lalat” bukan terbuat dari serangga. Julukan itu merujuk pada ukuran potongan daging ayam yang kecil. Sate disajikan dengan bumbu kacang, kecap manis, serta potongan lontong.
Kuliner ini mudah ditemukan di berbagai sudut kota hingga sepanjang jalur Pantura. Para pedagang biasanya menggelar dagangan di pinggir jalan dengan alas tikar sederhana.

Di Kelurahan Dawuhan, Kecamatan Kota, seorang pedagang sate “lalat”, Ahmad Saman, tak pernah sepi pembeli. Asap dari panggangan satenya terus mengepul, menghadirkan aroma yang menggugah selera.
Ahmad Saman mengaku telah berjualan sate “lalat” selama 20 tahun secara turun-temurun. Resep warisan keluarga tetap dipertahankan hingga kini.
Menurut Ahmad, cita rasa gurih berasal dari adonan bumbu kacang yang menjadi syarat utama. Rasa manis diperoleh dari kecap manis sebagai pelengkap.

"Adonan bumbu kacang harus pas dan wajib diberi kecap manis. Memang ukuran sate kecil yaa inilah yang menjadi kekhasan tersendiri dan banyak penikmatnya," ujar Ahmad Saman, Minggu, 15 Februari 2026.
Salah satu pelanggan, Rizal Setiawan, mengaku hampir tak pernah absen menikmati sate buatan Ahmad.
"Nikmat. Meski ukuran kecil tidak kalah rasanya dengan sate ayam terkena lainnya. Harganya juga sangat terjangkau, 12 ribu saja," tutur Rizal, sambil menikmati sate yang ada di hadapannya.
Ahmad Saman membuka lapaknya setiap hari. Ia berupaya menjaga kualitas rasa dalam balutan kesederhanaan. Harga yang terjangkau dan cita rasa khas membuat sate mungil ini tetap bertahan di tengah maraknya kuliner modern.
Sate “lalat” kini menjadi salah satu ikon kuliner Situbondo, terutama bagi pencinta sate ayam yang melintas di jalur Pantura.
Editor: Redaktur TVRINews
