
Unsri Gelar 6 Kegiatan Pemberdayaan Disabilitas di Palembang
Penulis: Aan Muzhar
TVRINews, Sumsel
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sriwijaya menggelar enam rangkaian kegiatan pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas muda.
Kegiatan ini berlangsung dari Bulan Juli hingga September 2025 di Yayasan Sharing Disability Indonesia, Palembang, dan didukung melalui program hibah Pengabdian kepada Masyarakat BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tim pelaksana yang diketuai Khairunnas dengan anggota Maudy Noor Fadhlia dan Decka Pratama Putra menegaskan kegiatan ini digagas sebagai upaya nyata untuk menjawab persoalan rendahnya serapan tenaga kerja terhadap kelompok disabilitas.
“Seringkali kelompok disabilitas hanya dipandang sebelah mata dalam dunia kerja. Melalui program ini, kami ingin membekali mereka keterampilan digital agar mampu mandiri secara ekonomi,” ujar Khairunnas saat ditemui usai kegiatan.
Latar Belakang Kegiatan Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jutaan penyandang disabilitas di Indonesia masih menghadapi kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. Diskriminasi, stigma sosial, dan minimnya fasilitas ramah disabilitas menjadi faktor penghambat utama.
Melihat kondisi tersebut, tim dosen FISIP Unsri berinisiatif menghadirkan program yang menekankan pada penguasaan teknologi digital. Bisnis berbasis internet dinilai sebagai solusi karena tidak terikat pada lokasi fisik, bisa dikelola secara fleksibel, serta relatif membutuhkan modal kecil.
“Dengan menguasai keterampilan digital, kelompok disabilitas bisa menembus batas mobilitas mereka. Mereka bisa memasarkan produk ke seluruh Indonesia, bahkan mancanegara, tanpa harus terhambat akses transportasi maupun gedung yang tidak ramah difabel,” jelas Maudy Noor Fadhlia.
Enam Kegiatan Pemberdayaan dalam kurun tiga bulan, sebanyak enam kegiatan utama telah dilaksanakan.
Pertama, Business Plan, di mana peserta dilatih menyusun rencana bisnis sederhana agar usaha mereka memiliki arah dan strategi jelas. Kedua, Pelatihan Foto Produk, memberikan teknik dasar pemotretan dengan peralatan sederhana agar hasil lebih menarik dan layak dipasarkan.
Ketiga, Desain Konten dengan Canva dan Capcut, yang mengajarkan cara membuat materi visual dan video promosi dengan aplikasi gratis yang mudah diakses.
Keempat, Optimalisasi Media Sosial dan Meta Ads, yaitu pelatihan strategi pemasaran melalui Instagram, Facebook, dan pemanfaatan iklan berbayar untuk menjangkau konsumen lebih luas.
Kelima, Pelatihan Marketplace, meliputi cara membuka toko daring di platform seperti Shopee dan Tokopedia, serta teknik menjaga reputasi penjual. Keenam, Optimalisasi Website, agar peserta mampu menggunakan situs web sederhana sebagai etalase digital produk mereka.
Menurut Decka Pratama Putra, seluruh kegiatan dirancang tidak hanya berbasis teori tetapi juga praktik langsung.
“Peserta langsung memotret produk, membuat konten, hingga mencoba memasang iklan digital. Dengan begitu, hasil pelatihan bisa segera diaplikasikan,” ujarnya.
Respons dan Dampak Awal Program ini disambut antusias oleh peserta dan pengelola Yayasan Sharing Disability Indonesia. Direktur yayasan menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan kelompok disabilitas.
“Selama ini, banyak penyandang disabilitas masih diberdayakan melalui UMKM yayasan, dan perlu didorong untuk berdaya dengan membuat usaha sendiri. Beberapa diantaranya telah memiliki produk dan usaha sendiri, tetapi masih membutuhkan motivasi dan wawasan terutama dalam hal pemasaran. Program ini menjawab kebutuhan itu,” ungkapnya.
Harapan Keberlanjutan sebagai penerima hibah BIMA, tim dosen FISIP Unsri berharap program ini tidak hanya berhenti di satu periode.
Mereka berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan, memperluas kerja sama dengan sektor swasta, dan mendorong pemerintah daerah agar mendukung kebijakan inklusi ekonomi digital.
“Kami ingin menyiapkan generasi muda disabilitas yang tidak hanya bisa berdikari, tetapi juga menjadi pelaku usaha yang membuka lapangan kerja. Jika ekosistemnya terbangun, penyandang disabilitas bukan hanya penerima manfaat, melainkan juga motor penggerak ekonomi,” tutup Khairunnas
Editor: Redaktur TVRINews
