
Dok. ANTARA
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Fransiskus meninggal dunia pada usia 88 tahun sekitar pukul 07.35 waktu setempat Vatikan, Roma, Senin, 21 April 2025 hari ini.
Kepergian Paus Fransiskus meninggalkan duka mendalam bagi umat Katolik dan komunitas internasional.
Sejumlah pemimpin dunia pun menyampaikan rasa belasungkawa dan penghormatan atas warisan perdamaian dan kemanusiaan yang telah ditinggalkannya.
Melansir dari Hindustan Times dan The Guardian, berikut ini adalah ucapan bela sungkawa dari sejumlah pemimpin dunia atas kepergian Paus Fransiskus:
Presiden Israel, Isaac Herzog, melalui unggahan di media sosial X, menggambarkan Paus sebagai sosok penuh kasih dan dedikasi terhadap kaum miskin serta perjuangan global untuk perdamaian.
“Saya sungguh berharap doanya untuk perdamaian di Timur Tengah dan keselamatan para sandera di Gaza akan segera terkabul,” tulis Herzog, mengingat kontribusi Paus terhadap isu kemanusiaan di kawasan yang penuh konflik.
Perdana Menteri Belanda, Dick Schoof menyebut Paus Fransiskus sebagai pemimpin yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk dalam mengangkat isu-isu global penting seperti keadilan sosial, lingkungan, dan toleransi antaragama.
“Beliau menjadi panutan tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi juga bagi seluruh umat manusia,” ujar Schoof.
Calon Kanselir Jerman, Friedrich Merz turut memberikan penghormatan dengan menyoroti sikap rendah hati Paus serta kepeduliannya terhadap mereka yang terpinggirkan.
“Ia dibimbing oleh iman dan belas kasih Tuhan. Dukungan beliau terhadap kaum rentan akan selalu dikenang,” ungkapnya.
Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon menekankan bahwa kepergian Paus Fransiskus adalah kehilangan besar bagi dunia.
“Warisan beliau adalah komitmen terhadap kaum rentan, keadilan sosial, dan dialog antaragama. Dunia telah kehilangan suara moral yang kuat dan lembut sekaligus,” ujarnya.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dalam pernyataannya, menyebut Paus sebagai pemimpin spiritual yang senantiasa berpihak pada mereka yang paling lemah.
“Dalam dunia yang penuh perang dan kekerasan, ia hadir sebagai suara ketenangan dan empati, selalu dengan kerendahan hati,” kata Macron.
Presiden Swiss, Karin Maria Keller-Sutter juga menyampaikan rasa hormat terakhir kepada Paus Fransiskus yang disebutnya sebagai “pejuang tanpa lelah untuk perdamaian.”
Riwayat Kesehatan dan Akhir Hidup
Sebelum wafat, Paus Fransiskus sempat dirawat akibat pneumonia ganda. Ia menjalani perawatan intensif selama 38 hari dan sempat diizinkan pulang pada 25 Maret 2025.
Namun, kondisi kesehatannya kembali menurun hingga akhirnya beliau meninggal dunia pada pagi hari ini di kediamannya di Vatikan.
Kepergian Paus Fransiskus menjadi duka mendalam bagi dunia. Ia akan dikenang bukan hanya sebagai pemimpin gereja, tetapi sebagai simbol kemanusiaan, toleransi, dan perjuangan tanpa lelah untuk mewujudkan dunia yang lebih damai.
Baca Juga: Paus Fransiskus Pernah Puji soal Bhinneka Tunggal Ika Indonesia
Editor: Redaktur TVRINews
