
Penulis: Darius Tarigan
TVRINews, Pontianak
Kilau lampu warna-warni dari iring-iringan Naga Bersinar membelah malam di sepanjang Jalan Gajah Mada. Ribuan warga tumpah ruah memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan parade Cap Go Meh 2577 yang menjadi agenda budaya tahunan di Kota Pontianak.
Sebanyak 49 kelompok naga tampil bergantian, meliuk dan berkelok mengikuti irama tabuhan musik. Sorak sorai penonton berpadu dengan denting tambur, menciptakan suasana semarak yang menyatukan berbagai kalangan.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyampaikan apresiasinya atas tingginya keterlibatan masyarakat dalam perayaan tersebut. Ia menilai, parade naga bersinar selalu berhasil menjadi ruang kebersamaan lintas etnis.

“Setiap digelar, Jalan Gajah Mada selalu dipenuhi masyarakat. Bukan hanya warga Tionghoa, tetapi seluruh elemen masyarakat ikut meramaikan,” ujarnya.
Menurutnya, Cap Go Meh tidak sekadar tradisi tahunan, melainkan cerminan kuatnya toleransi dan harmoni di Kota Pontianak. Ia juga menyoroti perayaan tahun ini yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan, namun tetap berlangsung tertib dan penuh rasa saling menghargai.
“Ini membuktikan bahwa Pontianak adalah kota yang ramah dan terbuka bagi siapa saja untuk berkreasi dan berkarya,” tambahnya.
Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin, turut menilai bahwa animo masyarakat terhadap parade naga terus meningkat setiap tahun. Hampir lima puluh naga yang tampil dinilai menjadi potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata unggulan.
“Kalau dikelola lebih profesional, ini bisa memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan daerah,” sebutnya.
Ia menambahkan, ramainya pengunjung turut menggeliatkan roda perekonomian. Sektor kuliner, perhotelan, hingga pelaku UMKM merasakan dampak positif dari membludaknya warga yang datang menyaksikan perayaan.
Sementara itu, Ketua Panitia Festival Cap Go Meh Pontianak, Hendri Pangestu Lim, menjelaskan bahwa panjang naga yang tampil tahun ini bervariasi. Naga terpanjang mencapai 118 meter, sedangkan yang terpendek sekitar 20 meter.
“Masing-masing kelompok menghadirkan ciri khas tersendiri, baik dari kombinasi lampu, gerakan atraktif maupun iringan musik tabuh yang memperkaya suasana,” jelasnya.
Seluruh naga merupakan hasil kreativitas masyarakat dan perkumpulan dari berbagai kelenteng di Pontianak. Persiapan dilakukan jauh hari, termasuk koordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan guna memastikan acara berjalan lancar.
Antusiasme warga sudah terlihat sejak sore. Rina (34), warga Pontianak Selatan, mengaku tak pernah absen membawa keluarganya menyaksikan parade tersebut.
“Anak-anak selalu menunggu momen ini. Meski bertepatan dengan Ramadan, suasananya tetap tertib dan penuh toleransi,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Ardi (27), warga Sungai Raya Dalam. Ia menilai keberagaman yang terjalin dalam perayaan budaya menjadi kekuatan utama Kota Khatulistiwa.
“Kita semua hadir untuk menikmati kebersamaan dalam satu perayaan budaya,” pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
