
Program MBG di Sumba Barat Daya Berhasil Perbaiki Gizi Ibu Hamil dan Balita
Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Sumba Barat Daya
Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan lebih dari enam bulan di Posyandu Pos 1 Desa Radamata, Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai menunjukkan hasil nyata. Program ini memberikan dampak positif signifikan terhadap kesehatan ibu hamil, ibu menyusui, serta pertumbuhan balita di wilayah tersebut.
Berdasarkan informasi yang diperoleh pada Senin, 16 Februari 2026, indikator keberhasilan terlihat dari kenaikan berat badan peserta, perbaikan kondisi Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil, hingga peningkatan keaktifan balita. Kader Posyandu Desa Radamata, Noviana Lede, menjelaskan bahwa terdapat 127 penerima manfaat di Pos 1 yang terdiri dari 99 balita, 14 ibu menyusui, dan 14 ibu hamil.

“Selama pemantauan kami sebagai ibu kader, memang ada perubahan. Mulai dari tinggi badan, berat badan balita, ibu menyusui, ibu hamil juga ada perubahan,” ujar Noviana.
Salah satu capaian penting adalah penanganan ibu hamil dengan kondisi KEK. Noviana menceritakan adanya perbaikan kondisi pada dua ibu hamil setelah tiga hingga empat bulan mengonsumsi MBG secara rutin. Selain itu, program ini membantu seorang ibu hamil risiko tinggi berusia 15 tahun untuk melahirkan secara normal dengan berat bayi 2,5 kilogram.
“Waktu itu kami takut lahirannya Cesar, tapi ternyata dia bisa lahir normal. Berat anaknya 2,5,” jelas Noviana.
Kondisi kesehatan ibu menyusui juga dilaporkan membaik. Dari 14 ibu menyusui, sebanyak 13 orang di antaranya memiliki produksi ASI yang lancar.

“Yang lain aman, asinya lancar,” ujar Noviana.
Selain pemberian makanan, para kader dan bidan rutin memberikan edukasi mengenai pola makan bergizi dan kesehatan mental guna mencegah baby blues. Untuk kelompok balita, hasil penimbangan bulanan menunjukkan kenaikan berat badan yang konsisten. Anak-anak juga menjadi lebih aktif dan antusias mendatangi posyandu.
“Anak itu terlalu aktif semua. Tidak ada yang duduk diam. Kalau lihat ompreng, langsung menangis dan minta nasi,” kata Noviana.
Peningkatan partisipasi masyarakat menjadi dampak lain dari program ini. Jika sebelumnya banyak ibu berhenti datang ke posyandu setelah anak melewati usia imunisasi sembilan bulan, kini kunjungan meningkat drastis. Noviana menilai variasi menu yang lengkap dengan protein, sayur, dan buah menjadi faktor utama anak-anak lebih lahap makan dibandingkan menu sederhana di rumah.
“Setelah adanya MBG, rajin semua sudah,” katanya.
Ia juga menambahkan perbandingan menu di rumah yang biasanya terbatas.
“Kalau di rumah biasanya telur saja. Tidak ada tempenya, buahnya tidak ada,” ujarnya.
Melihat dampak positif selama enam bulan terakhir, Noviana berharap program MBG dapat terus berlanjut dan menjangkau posyandu lain yang belum menerima manfaat. Hal ini dinilai krusial untuk menekan angka stunting di Desa Radamata.
“Ya, berdampak. Sangat berdampak. Kami sangat berterima kasih dengan adanya program MBG ini. Harapan kami, semoga dapat menekan angka stunting dan gizi buruk di posyandu kami,” pungkasnya.
Editor: Redaksi TVRINews
