Penulis: Erasmus Nagi Noi
TVRINews, NTT
Pemerintah Kota Kupang menggelar Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Kantor Wali Kota Kupang, Minggu, 17 Agustus 2025.
Upacara berlangsung khidmat dan dipimpin langsung oleh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, sebagai inspektur upacara. Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Wali Kota Serena C. Francis, anggota DPRD, unsur Forkopimda, pimpinan instansi vertikal, organisasi wanita, camat dan lurah se-Kota Kupang, serta ribuan peserta upacara dari kalangan ASN, pelajar, hingga veteran.
Dalam sambutannya, Wali Kota Christian Widodo menyampaikan rasa syukur atas anugerah Tuhan Yang Maha Esa, yang memungkinkan Indonesia tetap berdiri tegak hingga usia ke-80 tahun kemerdekaan. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh petugas upacara, khususnya para anggota Paskibraka.
“Terima kasih kepada seluruh petugas upacara dan adik-adik Paskibraka. Ini bukan sekadar tugas, ini adalah kehormatan besar,” ujar Wali Kota. “Menjadi Paskibraka bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal mental dan karakter.”
Ia memuji kedisiplinan dan kekompakan para Paskibraka yang tampil penuh semangat meski di bawah terik matahari.
“Setiap langkah kalian, setiap tarikan napas yang satu, adalah simbol kebersamaan, kerja sama, dan solidaritas. Itulah semangat Indonesia,” lanjutnya.
Mengenang jasa para pejuang kemerdekaan, Wali Kota mengajak seluruh warga untuk melanjutkan semangat perjuangan dengan menghadapi tantangan zaman secara jujur dan berani. Ia mengutip pesan Presiden Soekarno: “Perjuanganku lebih mudah karena aku mengusir penjajah. Tapi perjuanganmu lebih berat karena kamu akan melawan bangsamu sendiri.”
Menurutnya, tantangan hari ini tidak lagi berupa penjajahan dari luar, melainkan masalah internal seperti kemiskinan, pengangguran, kebodohan, dan ketidakadilan.
“Tanpa makan kita bisa bertahan sebulan. Tanpa air kita bisa bertahan beberapa hari. Tanpa napas, paling lama 24 menit. Tapi tanpa harapan, kita sebenarnya sudah mati,” tegas Wali Kota Christian.
Memasuki 100 hari masa pemerintahannya, ia memaparkan sejumlah langkah yang telah dijalankan, salah satunya pengalokasian dana darurat sebesar Rp3 miliar di bidang kesehatan. Dana ini digunakan untuk menjamin layanan kegawatdaruratan bagi warga tanpa harus terhambat urusan administrasi.
“Tidak boleh ada nyawa yang hilang hanya karena urusan administrasi,” ujarnya. “Kalau ada yang butuh pertolongan darurat, langsung ke IGD. Tolong dulu, urus administrasinya nanti. Tapi tentu, jangan batuk pilek lari ke IGD.”
Dalam sektor kebersihan, Pemerintah Kota Kupang memberikan insentif bagi petugas kebersihan termasuk pada akhir pekan. Pemerintah juga menggelar Lomba Kebersihan Antarkelurahan, dengan penghargaan berupa pembangunan infrastruktur senilai Rp300 juta hingga Rp1 miliar untuk kelurahan yang meraih peringkat terbaik.
“Pembangunan ini bukan untuk kelurahan saja, tapi kembali kepada masyarakat. Karena yang menjaga lingkungan bersih adalah kita semua,” tegasnya.
Di bidang ekonomi, kegiatan “Saboak Koepan” atau Sunday Market di Taman Nostalgia kini menjadi pusat perputaran UMKM yang aktif setiap akhir pekan. “Sekarang, setiap Sabtu dan Minggu, ada perputaran uang sekitar 300 juta di taman itu. Taman bukan sekadar hiasan, taman harus hidup, harus bernyawa,” ucap Wali Kota.
Ia menambahkan, pemerintah juga mendorong legalisasi UMKM agar dapat mengakses bantuan dari lembaga pusat. Hingga kini, sebanyak 669 UMKM telah memiliki legalitas resmi.
“Bukan hanya bantuan langsung yang kami berikan. Kami bantu urus izinnya dari awal, agar bisa akses dana dari Jakarta dan lembaga lain,” jelasnya.
Untuk bidang sosial, bantuan beras telah disalurkan kepada puluhan ribu keluarga. Pemerintah Kota Kupang juga memberikan layanan liang lahat gratis bagi keluarga kurang mampu.
“Kalau dulu harus bayar 2 sampai 3 juta untuk gali liang lahat, sekarang keluarga bisa dibantu oleh pemerintah kota. Hubungi Dinas Sosial, nanti kami bantu,” terang Wali Kota.
Menutup sambutannya, ia menegaskan bahwa semua pencapaian hanya mungkin diraih lewat kolaborasi lintas sektor. Ia mengutip Bung Hatta: “Indonesia bercahaya bukan karena obor di Jakarta, tetapi karena lilin-lilin yang dinyalakan di desa-desa.”
“Kota Kupang hari ini bukan bercahaya karena obor di kantor Wali Kota, tetapi karena lilin-lilin kecil yang menyala di dinas, kelurahan, RW, RT, dan rumah-rumah warga,” ujarnya. “Sendirian kita hanya setetes air, tapi bersama-sama kita satu samudra luas.”
Upacara peringatan HUT ke-80 RI di Kota Kupang ditutup dengan penyerahan Satya Lencana kepada ASN, pengumuman pemenang lomba kebersihan antar kelurahan, serta berbagai lomba lainnya yang diselenggarakan dalam semangat peringatan kemerdekaan.
Baca juga: Prabowo Kenakan Tanjak Biru, Pimpin Upacara Penurunan Bendera di Istana
Editor: Redaksi TVRINews
