Penulis: Heri Setiawan
TVRINews, Tuban
Kasus gagal ginjal yang menyebabkan pasien rutin cuci darah sepanjang hidupnya mengalami peningkatan di Kabupaten Tuban. Pola hidup tak sehat menjadi salah satu pemicunya bahkan kasus tersebut kini juga merambah ke anak usia muda.
Pasien cuci darah akibat gagal ginjal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dokter Koesma Kabupaten Tuban mengalami tren peningkatan beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2024 ini ada sebanyak 125 pasien cuci darah reguler, sedangkan pasien daftar tunggu tercatat lebih dari 30 orang pasien Hemodialisa, harus rutin melakukan cuci darah antara 2 hingga 3 kali dalam satu minggu.
Membludaknya jumlah pasien membuat sebanyak 18 alat cuci darah di RSUD Tuban tak pernah berhenti bekerja. Belasan alat cuci darah tersebut setiap hari dimaksimalkan untuk melakukan cuci darah sebanyak 3 kali setiap kali cuci darah dibutuhkan waktu sedikitnya 5 jam.
Direktur RSUD Dokter Koesma Tuban, dokter Masyhudi mengatakan tren kasus cuci darah di Rumah Sakit setempat terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Namun ia tak merincikan angka pastinya kepada awak media.
“Tren pasien cuci darah di Kabupaten Tuban meningkat, untuk itu kita memerlukan penambahan peralatan mesin cuci darah untuk mendukung kelancaran pelayanan Rumah sakit,“ kata dokter Masyhudi kepada tvrinews.com, Senin 19 Agustus 2024.
Kasus gagal ginjal yang membuat pasien harus cuci darah seumur hidup tersebut saat ini juga merambah ke anak usia muda salah satu pemicunya adalah pola hidup yang tidak sehat. Seperti mengonsumsi makanan maupun minuman instan secara berlebihan.
“Saat ini pasien gagal ginjal mulai merambah ke anak-anak usia muda. Ini akibat pola hidup yang tidak sehat yakni banyak mengkonsumsi makanan minuman instan,“ tambahnya.
RSUD Tuban akan menambah alat cuci darah sebanyak 50 mesin, namun langkah tersebut baru akan direalisasikan pada tahun 2025 mendatang.
Untuk sementara pihak Rumah Sakit saat ini masih memaksimalkan alat yang ada yakni 18 mesin cuci darah.
Editor: Redaktur TVRINews
