
Penulis: Ama Boro Huko
TVRINews, Flores Timur
Pencarian terhadap nelayan paruh baya berinisial SKH (51), warga Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang hilang saat memancing di laut, hingga kini belum membuahkan hasil.
Pada hari Selasa 13 Januari 2026, tim gabungan masih terus melakukan upaya penyisiran di perairan Kawalelo. Informasi tersebut disampaikan pihak Ditpolairud Polda NTT melalui Markas Unit Polisi Air dan Udara (Marnit) Flores Timur kepada awak media TVRINews.
Salah satu anggota Polairud yang terlibat langsung dalam pencarian, Lexi, mengatakan bahwa tidak ada kendala teknis yang berarti selama proses pencarian. Namun, cuaca buruk menjadi faktor yang cukup menghambat operasi di lapangan.
"Tidak ada kendala berarti, hanya cuaca buruk yang sedikit menghambat proses pencarian. Berdasarkan aturan, hari ini merupakan hari terakhir proses pencarian korban," ujar Lexi, Selasa 13 Januari 2026.

Kronologi Hilangnya Korban
Sebelumnya, pada Rabu, 7 Januari 2026, sekitar pukul 04.00 WITA, korban SKH bersama lima rekannya pergi memancing di perairan Kawalelo, tepatnya di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo.
Berdasarkan data yang dihimpun, korban dan rekan-rekannya memancing menggunakan perahu atau sampan masing-masing. Titik koordinat terakhir korban sebelum dinyatakan hilang berada di 8° 27' 657" LS dan 122° 53' 844" BT, atau sekitar 1,7 mil laut dari daratan.
Salah satu rekan korban sempat melihat SKH sedang memancing menggunakan rawe, dengan sekitar 200 mata kail yang telah dilemparkan ke laut. Tak lama berselang, terdengar teriakan memanggil nama "Nana" sebanyak tiga kali, yang diduga kuat merupakan suara korban.
Mendengar panggilan tersebut, salah satu rekan korban berusaha mendekat ke lokasi. Namun, saat tiba di titik tersebut, korban sudah tidak terlihat dan hanya ditemukan perahu serta sampan milik SKH yang mengambang di laut.
Lima rekan korban yang menjadi saksi mata sempat melakukan pencarian awal menggunakan senter, namun korban tidak ditemukan. Mereka kemudian memutuskan kembali ke daratan untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang.
Unsur Terlibat dan Alat Pencarian
Pencarian korban melibatkan berbagai unsur, yakni Basarnas sebanyak enam personel, BPBD enam personel, Marnit Polairud Flores Timur empat personel, satu personel TNI Angkatan Laut, serta enam personel Polsek Titehena bersama warga setempat.
Sejumlah alat pendukung juga dikerahkan dalam operasi pencarian, di antaranya satu unit perahu karet Basarnas, Ship Tender 01 KP P. Timor, satu unit perahu karet BNPB, serta satu unit speed boat milik PT Asa Mutiara.
Editor: Redaktur TVRINews
