
Visual Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, NTT, yang kembali meletus pada pukul 19.45 Wita, Sabtu (17/1/2026). (Foto: Dok. PVMBG)
Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Jakarta
Gunung Ile Lewotolok yang terletak di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup intens pada malam hari, Sabtu (17/1/2026), dengan terjadinya 466 letusan dalam kurun waktu beberapa jam. Letusan-letusan tersebut disertai dengan suara gemuruh keras yang berasal dari kawah yang memerah akibat lontaran material pijar dan aliran lava.
Menurut informasi yang disampaikan oleh Yeremias Kristianto Pugel, petugas Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok, letusan yang terjadi pada malam tersebut memunculkan material pijar yang terlempar sejauh 100 hingga 200 meter ke arah selatan-tenggara, serta aliran lava yang terlihat mengarah ke sektor barat sejauh 100 meter dari bibir kawah. Yeremias juga menambahkan bahwa ketinggian letusan mencapai antara 200 hingga 500 meter di atas puncak kawah.
“Pada malam itu, kita mencatat sebanyak 466 letusan, dengan amplitudo berkisar antara 12,8 hingga 36,2 milimeter. Durasi letusan pun bervariasi, antara 41 hingga 85 detik. Selain itu, aktivitas gunung juga disertai dengan embusan sebanyak 320 kali, tremor nonharmonik sebanyak 44 kali, serta frekuensi rendah satu kali,” jelas Yeremias dalam keterangan yang dikutip, Minggu (18/1/2026).
Berdasarkan data yang ada, meskipun aktivitas gunung meningkat, Yeremias menegaskan bahwa masyarakat di sekitar kawasan gunung diharapkan untuk tetap tenang namun waspada. Ia juga mengingatkan agar warga dan pengunjung tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari puncak gunung, serta menjauhi sektor-sektor yang berpotensi berbahaya seperti selatan-tenggara dan barat yang memiliki jarak lebih dari 2,5 kilometer.
“Jangan panik, suara gemuruh atau dentuman yang terdengar adalah tanda bahwa Gunung Ile Lewotolok sedang dalam fase erupsi. Meskipun aktivitas vulkanik ini cukup besar, kami selalu memantau perkembangan dan akan memberikan informasi terbaru kepada masyarakat,” tambah Yeremias.
Selain itu, pihak berwenang memperingatkan potensi bahaya guguran lava serta awan panas yang dapat meluncur ke arah sektor-sektor yang rawan, seperti selatan, tenggara, dan barat. Oleh karena itu, kewaspadaan dan penghindaran terhadap zona-zona berisiko menjadi hal yang sangat penting untuk keselamatan.
Dengan aktivitas gunung yang terus dipantau, otoritas setempat meminta warga untuk mematuhi instruksi keselamatan dan tidak memasuki area berbahaya, mengingat potensi bahaya yang ada.
Editor: Redaksi TVRINews
