
Penulis: Masrul Fajrin
TVRINews, Surabaya
Sebagai salah satu warisan budaya asli Indonesia, olahraga bela diri Tarung Derajat kini tidak hanya membidik prestasi di gelanggang nasional, tetapi juga mulai merambah dunia pendidikan. Langkah strategis ini diambil guna memastikan regenerasi atlet sekaligus membentuk karakter generasi muda yang disiplin dan tangguh sejak dini.
Anggota DPR RI sekaligus pembina olahraga, Bambang Haryo Soekartono (BHS), mendorong penuh agar Tarung Derajat dapat diakomodasi sebagai kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) di semua tingkatan sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas.
Menurutnya, pengenalan dini sangat penting agar anak-anak tidak hanya mengenal teknik bela diri, tetapi juga nilai-nilai luhur di dalamnya.
"Tujuannya adalah untuk membentuk karakter diri, sekaligus kedisiplinan dan sebagainya. Semakin dini anak-anak mengenal Tarung Derajat, kita bisa mencetak generasi yang disiplin, tangguh, bahkan berprestasi," ujar Bambang Haryo saat ditemui pada Jumat, 6 Maret 2026.
Lebih lanjut, pria yang akrab disapa BHS ini optimistis bahwa jalur prestasi (japres) melalui Tarung Derajat dapat menjadi jembatan bagi siswa untuk masuk ke SMA Negeri maupun Perguruan Tinggi Negeri, hingga menunjang karier di instansi negara.
"Juara-juara tadi bisa mendapatkan prioritas untuk masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi hingga karier sebagai polisi, ASN, maupun tentara," imbuhnya.
Fokus Regenerasi dan Usia Emas Atlet
Senada dengan hal tersebut, Ketua Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Kodrat) Jawa Timur, Erwin H. Poedjono, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mematangkan strategi menuju PON XXI. Saat ini, tren "usia emas" atlet telah bergeser menjadi lebih muda, yakni di kisaran 24 tahun.
Oleh karena itu, Kodrat Jatim kini fokus memantau atlet potensial di ajang Porprov yang memiliki batasan usia di bawah 21 tahun.
Strategi ini diharapkan mampu menjaring bibit unggul yang siap diterjunkan dalam dua tahun ke depan.
"Kami melihat tren usia prestasi sekarang lebih muda. Dengan batasan usia di Porprov, kami optimistis bisa menjaring bibit unggul untuk diproyeksikan ke ajang nasional," jelas Erwin.
Ia juga menambahkan bahwa saat ini pihaknya menjalankan Puslatda Mandiri untuk menyiasati kuota agar pembinaan tetap berjalan maksimal.
Sinergi Pentahelix dan Fasilitas SMANOR
Dukungan kuat juga datang dari legislatif. Anggota Komisi E DPRD Jatim, Cahyo Harjo Prakoso, menekankan pentingnya konsep kolaborasi pentahelix dalam memajukan prestasi olahraga. Ia menilai, mengandalkan APBD saja tidak cukup untuk melahirkan atlet kelas dunia.
"Pengembangan atlet memerlukan dukungan total, tidak hanya dari pemerintah tapi juga peran pengusaha dan tokoh masyarakat," tegas Cahyo.
Cahyo juga mendorong agar Tarung Derajat bisa masuk ke dalam SMA Negeri Olahraga (SMANOR). Baginya, Tarung Derajat adalah media efektif untuk memupuk toleransi dan mentalitas juara di kalangan siswa.
Pihaknya berencana melakukan koordinasi lintas sektor dengan Dispora, Dinas Pendidikan, hingga Biro Kesra untuk mengkaji wacana integrasi kurikulum ini.
"Olahraga ini bukan sekadar bela diri, tapi media untuk membentuk karakter dan toleransi di kalangan siswa," pungkasnya.
Dengan perpaduan antara pembinaan usia dini melalui jalur pendidikan dan manajemen atlet yang profesional, Tarung Derajat Jawa Timur diharapkan mampu terus mengharumkan nama daerah sekaligus mencetak putra-putri bangsa yang berbudaya dan kompetitif.
Editor: Redaktur TVRINews
