Penulis: Alexandro Hatol
TVRINews, Manggarai Barat
Kementerian Perhubungan terus mendorong digitalisasi layanan di seluruh sektor transportasi di Indonesia, baik darat, laut, dan udara. Digitalisasi dinilai penting untuk memberikan kemudahan dan meningkatkan layanan bagi masyarakat dan para pemangku kepentingan (stakeholder).
Digitalisasi pada sektor transportasi pariwisata juga menjadi peran penting dalam upaya memberikan kenyamanan para wisatawan yang berkunjung ke Daerah wisata, salah satunya adalah Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng, mendukung penuh upaya pemerintah pusat dan beberapa stakeholder terkait dalam upaya untuk mewujudkan adanya digitalisasi transportasi di Labuan Bajo demi kenyamanan para wisatawan yang datang berkunjung.
Yulianus mengakui bahwa transportasi untuk para wisatawan di Labuan Bajo masih banyak kekurangan dan kelemahan.
“Kami sungguh menyadari bahwa tamu adalah berkah bagi kami. Oleh karena itu, kami harus bisa memberi rasa aman dan nyaman kepada setiap tamu yang datang dengan menyediakan segala sarana yang mereka butuhkan, termasuk moda transportasi,” tuturnya saat memberikan kata sambutan pada kegiatan Forum Diskusi dan Kolaborasi Akselerasi Digitalisasi Layanan/Produk Pariwisasta, Kamis, 4 April 2024.
Ditengah geliat perkembangan Pemerintah mendorong digitalisasi transportasi, sejumlah pelaku Pariwisata dari kalangan sopir wisata yang tergabung dalam kalangan masyarakat peduli transportasi wisata Labuan Bajo, protes dengan penyelenggaraan layanan transportasi online Grab dan sejenisnya di Labuan Bajo.
Penolakan tersebut dilatarbelakangi dengan beberapa 7 alasan yang mendasar yaitu,
1.Labuan Bajo merupakan destinasi pariwisata utama di Indonesia, yang terkenal akan keindahan alamnya yang mempesona. Karenanya, Labuan Bajo bukanlah kota yang seharusnya menjadi pusat industri transportasi, melainkan lebih layak dijaga sebagai kota wisata yang nyaman dan terjaga keasriannya.
2.Dalam konteks transportasi, digitalisasi harus mengarah pada pengembangan sistem transportasi yang lebih baik dan berkelanjutan. Ini mencakup pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan operasional transportasi, menyediakan layanan yang lebih terjangkau dan mudah diakses, serta mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat lokal. Namun, perlu dicatat bahwa transportasi berbasis online seperti Grab bukanlah satu-satunya solusi transportasi digital yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Labuan Bajo.
3. Keberadaan layanan transportasi online Grab dalam jangka panjang diperkirakan akan memicu kemacetan yang signifikan dan lonjakan jumlah kendaraan bermotor. Hal ini akan berpotensi merusak keadaan lalu lintas yang sudah teratur dan mengganggu kenyamanan wisatawan maupun masyarakat lokal.
4. Lonjakan jumlah kendaraan bermotor yang akan ditimbulkan oleh layanan transportasi online Grab dapat meningkatkan polusi udara di Labuan Bajo. Dampak buruk dari polusi udara ini akan berpotensi merusak ekosistem dan kesehatan masyarakat setempat.
5. Adanya peningkatan aktivitas kendaraan bermotor juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan tingkat kriminalitas di Labuan Bajo. Lonjakan jumlah kendaraan membuka peluang bagi kegiatan kriminal seperti pencurian, perampokan, dan tindak kejahatan lainnya.
6. Dalam situasi kemacetan, tingkat stres yang dialami oleh penduduk dan pengunjung Labuan Bajo akan meningkat. Hal ini akan mengurangi kualitas pengalaman wisata dan menciptakan dampak negatif terhadap kesejahteraan psikologis masyarakat.
7. Infrastruktur transportasi di Labuan Bajo masih belum memadai untuk menangani lonjakan jumlah kendaraan bermotor. Kondisi jalan yang sempit dan minimnya fasilitas parkir akan semakin diperparah dengan kehadiran layanan transportasi online Grab dan sejenisnya.
Sementara itu, beberapa masyarakat dan wisatawan sangat mendukung dengan digitalisasi transportasi seperti dengan penggunaan aplikasi Grab.
Masyarakat dan wisatawan menilai dengan adanya layanan online transportasi dapat memudahkan masyarakat dan memberi rasa aman dan nyaman.
"Setuju kak, memudahkan untuk mobilisasi ketika hujan daan efektif untuk keluarga. Juga Memudahkan turis yang berwisata tanpa agent, jadi bisa lebih flexible kalo mau jalan-jalan Khususnya dalam kota Labuan Bajo", tutur Stela masyarakat Labuan Bajo, Senin, 8 April 2024.
Selain Stela, warga Labuan Bajo seperti Hilka, setuju dengan kehadiran transportasi digitalisasi seperti grab. Ia berpendapat, dengan adanya layanan tersebut dapat memberikan rasa aman dan nyaman juga memudahkan masyarakat dalam mengetahui besaran biaya yang harus dibayarkan dalam sekali pengantaran.
"Ya kehadiran layanan transportasi digital di Labuan Bajo sangat penting ya kak, karena kita harus terima kemajuan itu juga dan kita kalau naik Grab misalnya sudah tahu besaran biaya yang harus kita bayar dalam sekali antar sesuai dengan jarak tempuh kita, artinya tarif itu tidak semau diver atau sopir", ucap Hilka Senin, 8 April 2024.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Susi seorang wisatawan asal Jawa, menurutnya layanan transportasi berbasis digitalisasi seperti Grab harus ada di Labuan Bajo.
"Harus si mas, karena lebih cepat dan sangat memudahkan siapa saja yang mau kemana-kemana gitu, ya kalau di Labuan Bajo, kemarin saya dari bandara ke Hotel bayarnya 80 ribu naik mobil yang jaraknya tidak sampai 2 kilometer dan cuman 5 menit, dan itu mahal kan mas di Labuan Bajo", ucap Susi, Senin, 8 April 2024.
Editor: Redaktur TVRINews
