
Penulis: Sugiarta
TVRINews, Denpasar
Penilaian ogoh-ogoh dalam rangka Kasanga Festival Kota Denpasar Tahun 2026 berlangsung selama empat hari dan dijadwalkan berakhir pada Kamis, 26 Februari 2026. Sebanyak 223 sekaa teruna dari berbagai banjar mengikuti ajang tahunan ini dengan kualitas karya yang terus meningkat.
Dari ratusan peserta tersebut, akan dipilih 16 karya terbaik untuk tampil pada puncak acara yang digelar pada 6 hingga 8 Maret 2026 di kawasan Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung. Pawai dan pameran ogoh-ogoh tersebut diperkirakan menarik ribuan warga dan wisatawan.
Salah seorang dewan juri, Komang Indra Wirawan, mengatakan penilaian dilakukan secara objektif dan profesional dengan memperhatikan sejumlah aspek utama.
Menurutnya, terdapat dua unsur pokok yang menjadi perhatian tim juri, yakni ideoplastis dan fisikoplastis. Unsur ideoplastis berkaitan dengan ide, konsep, kedalaman gagasan, serta pesan moral yang diangkat dalam karya. Sementara unsur fisikoplastis mencakup bentuk, proporsi anatomi, teknik rancang bangun, komposisi, pewarnaan, detail artistik, kreativitas gerak, hingga penggunaan bahan.
“Ada peningkatan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun. Persaingan tahun ini sangat ketat karena generasi muda terus belajar dan berinovasi. Mereka tidak hanya kuat di konsep, tetapi juga semakin matang secara teknis,” ujar Komang Indra Wirawan, Kamis, 26 Februari 2026.
Ia menambahkan, kemudahan akses bahan baku serta perkembangan teknologi turut mendorong kualitas karya semakin baik. Beberapa ogoh-ogoh memanfaatkan sistem mekanik dan pencahayaan untuk menghadirkan efek dramatik saat pementasan. Meski demikian, aspek filosofi dan nilai budaya tetap menjadi pertimbangan utama dalam penilaian.
Kasanga Festival merupakan agenda tahunan Pemerintah Kota Denpasar untuk menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka. Festival ini menjadi ruang apresiasi kreativitas generasi muda Bali dalam menjaga tradisi pembuatan ogoh-ogoh, patung raksasa yang merepresentasikan bhuta kala atau sifat negatif dalam ajaran Hindu.
Secara tradisi, ogoh-ogoh diarak pada malam Pengerupukan, sehari sebelum Nyepi, sebagai simbol pembersihan dan penetralan energi negatif sebelum umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, meliputi amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan.
Tradisi ogoh-ogoh berkembang pesat di Bali sejak dekade 1980-an dan kini menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan Nyepi. Di Denpasar, festival ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga sarana pembinaan kreativitas pemuda adat, penguatan solidaritas antarbanjar, serta upaya menjaga keberlanjutan tradisi di tengah modernisasi dan perkembangan pariwisata.
Pemerintah Kota Denpasar turut mendorong penggunaan material ramah lingkungan sejalan dengan komitmen pengurangan sampah berbasis sumber dan pelestarian lingkungan.
Dengan jumlah peserta besar dan kualitas karya yang terus meningkat, Kasanga Festival 2026 memperkuat posisi Denpasar sebagai pusat kreativitas seni tradisi Bali sekaligus ruang ekspresi
Editor: Redaksi TVRINews
