
Polemik antara SMP Kristen Petra 3 dan SMA Kristen Petra 2 dengan warga Perumahan Tompotika, Manyar Tirtosari, Surabaya, berakhir setelah dimediasi oleh Wali Kota Surabaya
Penulis: Masrul Fajrin
TVRINews, Surabaya
Polemik antara SMP Kristen Petra 3 dan SMA Kristen Petra 2 dengan warga Perumahan Tompotika, Manyar Tirtosari, Surabaya, berakhir setelah dimediasi oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Perselisihan ini terkait dengan iuran sebesar Rp 35 juta yang menjadi sumber ketegangan antara sekolah dan pengurus tiga RW di kompleks perumahan tersebut.
Pertemuan yang berlangsung pada Senin, 5 Agustus 2024, di kediaman Ketua RW IV Kelurahan Menur Pumpungan, dihadiri oleh kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan yang diterima oleh semua pihak.
"Sudah ada beberapa kesepakatan antara satu dengan yang lainnya," ujar Eri Cahyadi, dikutip Selasa, 6 Agustus 2024.
Dari hasil pertemuan, warga dari tiga RW (RW 4, RW 5, dan RW 7) sepakat untuk tidak lagi menerima iuran dari sekolah Petra. Para pengurus RW juga memutuskan untuk tidak mengelola dana dari sekolah guna menghindari dugaan penyelewengan. Sebagai gantinya, mereka sepakat memberikan akses jalan kepada sekolah Petra seperti semula, mengakhiri penutupan jalan yang sempat dilakukan.
"Ketiga RW juga sepakat akan memberikan akses jalan kepada Petra seperti sediakala. Tidak ada lagi penutupan jalan," ujar Ketua RW 4 Manyar, Luluk Al Jufri.
Konflik ini sempat menjadi viral di media sosial, menimbulkan perhatian publik. Namun, dengan mediasi ini, permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan. Pihak sekolah, diwakili oleh Robert dari Petra 3, mengucapkan terima kasih kepada Wali Kota Eri Cahyadi karena telah membantu menyelesaikan konflik.
Sebagai bentuk kontribusi kepada warga, sekolah Petra berkomitmen untuk ikut menyiagakan tenaga keamanan (sekuriti) di delapan gerbang perumahan untuk mengantisipasi kemacetan saat jam berangkat dan pulang sekolah. Selain itu, sekolah juga akan membantu menjaga fasilitas umum, seperti kebersihan sungai dari eceng gondok.
Wali Kota Eri Cahyadi berharap agar konflik semacam ini tidak terulang lagi di masa depan dan menekankan pentingnya penyelesaian masalah melalui dialog dan musyawarah.
"Bagaimana warga bisa merasakan kenyamanan, dan sekolah juga bisa menyelenggarakan pendidikan dengan baik," jelasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
