
Kepiting Bakau dan Singkong Menjadi Kerupuk Renggining Bernilai Jual Tinggi
Penulis: Eko Septianto Rasyim
TVRINews, Kabupaten Bangka
Masyarakat Desa Pagarawan, Kabupaten Bangka, terus berinovasi untuk meningkatkan perekonomian lokal. Salah satu hasilnya adalah kerupuk renggining, olahan unik dari kepiting bakau dan singkong yang kini menjadi produk bernilai jual tinggi. Kerupuk ini tidak hanya memberikan nilai tambah pada kedua bahan utama, tetapi juga membuka peluang usaha bagi ibu-ibu rumah tangga.
Desa Pagarawan dikenal sebagai salah satu sentra kepiting bakau di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebagian besar warga desa ini bergantung pada pencarian kepiting bakau sebagai mata pencaharian utama. Biasanya, hanya kepiting berukuran besar yang dijual, sementara kepiting kecil dibesarkan kembali. Namun, dengan sentuhan kreativitas, kepiting yang semula hanya dijual mentah kini diolah menjadi produk makanan ringan yang digemari banyak orang.
Sudirman Adibrata, Pembina Dosen Universitas Bangka Belitung (UBB), mengungkapkan bahwa proses pemberdayaan masyarakat dimulai dengan kelompok pembudidaya ikan, seperti Pokdakan Kulong Pelat Sukses. Kelompok ini memberdayakan para istri anggota untuk mengolah kepiting bakau dan singkong menjadi kerupuk renggining.
"Kepiting besar dijual langsung, sementara kepiting kecil dibeli oleh kelompok pembudidaya. Di sini, para istri anggota kelompok ini diberdayakan dengan keterampilan mengolah kepiting bakau dan singkong," jelas Sudirman, dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu, 28 September 2025.
Proses pembuatan kerupuk renggining relatif sederhana. Daging kepiting direbus dan dipisahkan dari cangkangnya, lalu dicampur dengan singkong, sagu, dan bumbu penyedap. Adonan kemudian dicetak, dikukus, dijemur hingga kering, dan digoreng. Setelah itu, kerupuk renggining siap dikemas dan dipasarkan.
Dengan cara ini, kepiting bakau dan singkong yang sebelumnya hanya menjadi bahan pangan biasa kini telah menjadi produk dengan nilai tambah yang mampu meningkatkan perekonomian warga setempat. Selain itu, kerupuk renggining juga sudah mulai dipasarkan di berbagai tempat, termasuk Universitas Bangka Belitung, dan berpotensi untuk diperluas sebagai usaha rumahan.
Inovasi ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di desa pesisir serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, khususnya ibu rumah tangga yang memiliki keterampilan mengolah bahan pangan lokal.
Editor: Redaktur TVRINews
