
dok. Pemprov Riau
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Tradisi balap perahu khas Riau, Pacu Jalur, tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah viralnya sejumlah video yang menampilkan kemeriahan tradisi tersebut. Namun, kemunculan komentar dari sejumlah warganet yang mengklaim Pacu Jalur berasal dari Malaysia memicu polemik dan respons emosional dari masyarakat Indonesia.
Menanggapi isu ini, Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Hermono, menegaskan bahwa tidak ada klaim resmi dari otoritas Malaysia terhadap tradisi Pacu Jalur yang berasal dari Indonesia.
“Sampai sekarang tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah Malaysia yang menyatakan Pacu Jalur adalah milik mereka,” ujar Dubes Hermono dalam keterangan tertulis, Rabu, 23 Juli 2025.
Ia menyebutkan bahwa tudingan tersebut kemungkinan berasal dari komentar individu di media sosial yang tidak mewakili sikap negara. Bahkan bisa jadi komentar itu berasal dari WNI yang berdomisili di Malaysia atau hanya sekadar provokasi tanpa dasar yang jelas.
Menurut Hermono, banyak kesamaan budaya antara Indonesia dan Malaysia disebabkan oleh sejarah migrasi penduduk dari berbagai daerah di Indonesia ke Malaysia sebelum negara itu merdeka. Para migran membawa serta budaya dari daerah asalnya seperti Riau, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, dan Jawa, yang hingga kini masih dapat ditemui di berbagai wilayah di Malaysia.
“Dulu banyak orang Indonesia bermigrasi ke Malaysia dan membawa budayanya masing-masing. Karena itu kita bisa melihat kemiripan budaya antara kedua negara,” jelasnya.
Sebagai contoh, ia menyebut nama Kota Kuantan dan Sungai Kuantan yang ada di Malaysia serupa dengan lokasi pelaksanaan Pacu Jalur di Riau. Namun, kemiripan ini bukan berarti ada klaim sepihak, melainkan merupakan bagian dari sejarah dan hubungan budaya yang panjang antara kedua negara.
Dubes Hermono mengimbau masyarakat Indonesia untuk tidak mudah terpancing provokasi di media sosial, terutama yang tidak jelas sumbernya. Ia menilai, kemiripan budaya seharusnya menjadi jembatan persahabatan, bukan pemicu konflik antarwarga negara.
“Jangan sampai kesamaan budaya justru menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu. Kita harus bijak menyikapi isu yang beredar di media sosial,” pungkas Hermono.
Editor: Redaktur TVRINews
