Penulis: Puji Anugerah Leksono
TVRINews, Lumajang
Ribuan warga yang bermukim di lereng Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menggantungkan mata pencahariannya pada hasil alam. Salah satu yang menjadi andalan mereka adalah produksi gula merah berbahan dasar sari nira kelapa yang diolah secara tradisional.
Sejak pagi hari, suasana kesibukan tampak di berbagai sudut desa di kaki Gunung Semeru. Para pengrajin memanjat pohon kelapa yang tumbuh subur di sekitar pemukiman untuk mengambil nira bahan utama pembuatan gula merah. Aktivitas ini sudah menjadi tradisi turun-temurun yang menopang perekonomian warga selama puluhan tahun.
“Setiap hari kami bisa memproduksi 2 hingga 3 ton gula merah. Kalau permintaan sedang ramai, produksi bisa habis terjual. Saat sepi pun masih ada sisa sekitar 1 ton yang tak lama kemudian tetap dibeli. Alhamdulillah, produksi kami masih lancar,” ujar salah satu pengusaha gula aren di Lumajang Susiowadi, Rabu, 12 November 2025.
Menurut para pengrajin, gula merah khas Lumajang memiliki cita rasa yang berbeda dari daerah lain karena dibuat murni dari sari nira kelapa tanpa campuran bahan tambahan. Proses pembuatannya pun dilakukan secara tradisional untuk menjaga keaslian dan kualitas rasa.
“Gula aren dari kami murni, tidak ada campuran bahan lain. Banyak pelanggan tetap dari luar kota yang sudah terbiasa membeli di tempat kami,” ungkap Fidudin, pengrajin gula merah lainnya.
Sentra Produksi di Dua Kecamatan
Di Kabupaten Lumajang, sentra utama penghasil gula merah berada di Kecamatan Pasirian dan Kecamatan Candipuro. Salah satunya adalah Dusun Karang Anyar, Desa Jarit, yang memiliki lahan pohon kelapa cukup luas mencapai lebih dari 8.000 hektar.
Namun, aktivitas produksi gula merah di daerah ini tak lepas dari kendala, terutama yang berkaitan dengan kondisi alam. Proses pengambilan nira sangat bergantung pada cuaca dan waktu panjat yang tepat.
“Kami harus memperhitungkan waktu. Kalau kesiangan memanjat, nira biasanya sudah berubah warna dan tidak bagus untuk diolah. Jadi benar-benar tergantung cuaca dan ketepatan waktu,” jelas salah satu pemanjat nira David.
Permintaan Tinggi dari Berbagai Daerah
Gula merah asal Lumajang tak hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga lokal, tetapi juga dikirim ke berbagai kota besar di Jawa Timur seperti Malang, Surabaya, Mojokerto, Lamongan, dan Kediri. Selain digunakan sebagai pemanis alami untuk kebutuhan dapur, produk ini juga menjadi bahan baku penting bagi sejumlah pabrik kecap di wilayah tersebut.
Dengan cita rasa khas dan kualitas yang terjaga, gula merah Lumajang terus menjadi primadona di pasar lokal Jawa Timur. Di tengah tantangan alam dan keterbatasan teknologi, semangat para pengrajin di kaki Gunung Semeru tetap menyala menjaga warisan tradisi dan sumber penghidupan yang manis dari nira kelapa.
Editor: Redaksi TVRINews
