
Penulis: Wahyu Hidayat
TVRINews, Surabaya
Jaksa berprestasi Helena Octavianne meraih gelar doktor Program Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, dengan predikat summa cum laude. Disertasinya menyoroti kepemimpinan melayani sebagai kunci peningkatan kinerja penegakan hukum.
Ia juga dinobatkan sebagai wisudawati terbaik dalam Wisuda ke-261 yang digelar di Airlangga Convention Center (ACC), Surabaya. Helena mencatatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97 dan berhak atas predikat summa cum laude. Ia menjadi doktor perempuan pertama di program studi PSDM UNAIR pada 2026 sekaligus lulusan doktor ke-122.
Saat ini, Helena menjabat sebagai Kepala Bagian Reformasi Birokrasi pada Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Bidang Pembinaan di Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Di tengah tanggung jawab tersebut, ia mampu menyelesaikan studi doktoral dengan capaian akademik tinggi.
Dalam ujian disertasi, Helena mengangkat judul: “Servant Leadership Memediasi Pengaruh Kompetensi Jaksa terhadap Optimalisasi Organizational Performance dalam Penanganan Perkara Tindak Pidana Terkait Perempuan dan Anak yang Dimoderasi oleh Public Pressure dan Organizational Pressure.”
Proses penyusunan disertasi berlangsung dinamis. Ia melakukan perubahan judul hingga sembilan kali serta menyempurnakan kerangka konseptual sebanyak enam kali. Tahapan ini menunjukkan ketekunan dan ketahanan akademik dalam menjaga kualitas penelitian.
Penelitian tersebut menegaskan pentingnya kepemimpinan melayani (servant leadership) dalam meningkatkan kinerja organisasi penegak hukum. Kompetensi jaksa yang mencakup pengetahuan hukum, keterampilan teknis, serta integritas moral dinilai belum cukup tanpa dukungan gaya kepemimpinan yang tepat.
Selain itu, disertasi ini menyoroti penanganan perkara yang berkaitan dengan perempuan dan anak sebagai kelompok rentan. Sensitivitas sosial dan orientasi pelayanan menjadi faktor penting dalam mencapai keadilan yang optimal.
“Memberikan perspektif komprehensif dalam memahami dinamika pengelolaan sumber daya manusia di sektor public,” sebut Helena, dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu, 12 April 2026.
Helena juga mengaitkan temuannya dengan fenomena tekanan publik dan tekanan organisasi. Ia memperkenalkan refleksi melalui tagline “No Viral No Education” yang menggambarkan meningkatnya perhatian publik terhadap suatu kasus setelah menjadi viral di media sosial.
Melalui pendekatan servant leadership, ia menekankan pentingnya respons proaktif aparat penegak hukum. Penanganan perkara diharapkan berjalan adil dan profesional tanpa menunggu sorotan publik.
Capaian ini sekaligus memperkuat peran program doktoral PSDM UNAIR dalam membentuk perspektif komprehensif terkait pengelolaan sumber daya manusia di sektor publik. Prestasi Helena diharapkan menjadi inspirasi bagi aparatur sipil negara dan insan penegak hukum untuk terus meningkatkan kapasitas melalui pendidikan tinggi.
Editor: Redaktur TVRINews
