
Cegah Obesitas, Guru di Yogyakarta Diperkuat dengan Edukasi Psikososial
Penulis: Jati
TVRINews, Yogyakarta
Kasus obesitas atau kelebihan berat badan pada remaja di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan tren peningkatan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap kepercayaan diri, kondisi emosional, serta interaksi sosial remaja.
Jika tidak ditangani secara serius, obesitas berpotensi menurunkan kualitas hidup generasi muda di masa mendatang.
Sebagai langkah pencegahan, sejumlah guru dari jenjang SD hingga SMA di Kota Yogyakarta mendapatkan pembekalan melalui pelatihan asesmen kualitas hidup remaja dengan obesitas. Kegiatan ini melibatkan guru dan orang tua, serta diselenggarakan di RS AMC Muhammadiyah Kota Yogyakarta.
Dalam pelatihan tersebut, peserta menggunakan instrumen Pediatric Quality of Life Inventory yang telah teruji validitasnya. Selain itu, peserta juga dibekali keterampilan praktik, seperti pengisian kuesioner, teknik komunikasi empatik tanpa stigma, serta cara menginterpretasikan hasil untuk pemantauan non-medis.
Pelatihan ini tidak bertujuan menjadikan guru sebagai tenaga medis, melainkan untuk memperkuat kemampuan dalam mendeteksi dini permasalahan kualitas hidup siswa serta membangun komunikasi yang lebih suportif.
Melalui pendekatan psikososial, guru juga didorong untuk mempromosikan aktivitas fisik sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup remaja.
Dokter anak sekaligus narasumber kegiatan, dr. Dyah Ayu Shinta L., MIPH., MHM., Sp.A, menyampaikan bahwa sasaran utama program ini adalah remaja tingkat SMP dan SMA.

“Remaja menjadi sasaran utama karena sekolah merupakan lingkungan kedua bagi anak. Guru memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi, bahkan sering kali lebih mudah diterima dibandingkan orang tua,” ujarnya, Selasa (8/4/2026).
Sementara itu, dokter anak sekaligus akademisi, Dr. dr. H. Bambang Edi Susyanto, Sp.A, menjelaskan bahwa obesitas memiliki risiko kesehatan yang lebih serius dibandingkan sekadar kelebihan berat badan.
“Obesitas berada di atas overweight dan memiliki dampak jangka pendek maupun jangka panjang. Selain risiko perundungan, juga dapat memicu penyakit seperti diabetes, gangguan kardiovaskular, hingga kanker,” jelasnya.
Selain peran guru, keterlibatan orang tua juga dinilai penting dalam mendukung keberhasilan program, mengingat keluarga merupakan lingkungan utama dalam pembentukan pola hidup anak.
Ke depan, pelatihan serupa diharapkan dapat menjangkau lebih banyak tenaga pendidik di Daerah Istimewa Yogyakarta, guna meningkatkan kualitas hidup remaja dan mendukung terwujudnya generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.
Editor: Redaksi TVRINews
