Penulis: Indra Wijaya
TVRINews, Badung
Tingkat hunian hotel di sejumlah kawasan wisata utama di Bali masih terjaga di tengah tantangan geopolitik global. Meskipun muncul peringatan perjalanan (travel warning) dari Pemerintah Korea Selatan dan situasi konflik di Timur Tengah yang memicu sejumlah pembatalan reservasi, industri pariwisata Pulau Dewata tetap menunjukkan ketahanan yang kuat.
Salah satu manajer resort butik mewah di kawasan Sanur, Ricky Putra, mengakui pihaknya menerima beberapa pembatalan pemesanan kamar dari wisatawan Korea Selatan untuk periode April hingga Juni 2026. Menurutnya, hal ini dipicu oleh kekhawatiran wisatawan terhadap informasi keamanan yang berkembang serta peringatan resmi dari pemerintah negara asal mereka.
“Memang ada pembatalan reservasi dari tamu Korea Selatan untuk periode April hingga Juni. Namun secara keseluruhan, okupansi kami masih cukup baik dan belum mengalami penurunan signifikan,” ujar Ricky Putra, Jumat 17 April 2026.
Ricky menjelaskan bahwa kondisi tingkat hunian hotel pada bulan April ini masih mampu bertahan di kisaran 73 persen. Angka tersebut dinilai cukup sehat untuk periode setelah musim libur panjang dan menjelang memasuki pertengahan tahun.
Menyikapi kondisi tersebut, pelaku usaha hotel kini berupaya menjaga kepercayaan pasar dengan memperkuat strategi promosi. Langkah yang diambil meliputi penonjolan atraksi seni dan budaya lokal, penawaran paket khusus, hingga penyebaran informasi secara digital bahwa Bali tetap kondusif, aman, dan nyaman untuk dikunjungi.
“Kami terus meyakinkan calon wisatawan bahwa Bali tetap aman. Kami juga menghadirkan pengalaman budaya lokal agar tamu tetap tertarik berlibur ke Bali,” katanya.
Pasar Asia Timur seperti Korea Selatan, Jepang, dan China memang dikenal cukup sensitif terhadap travel advisory. Namun, data menunjukkan bahwa pasar ini sangat strategis bagi Bali. Pada tahun 2025, wisatawan asal Korea Selatan menempati posisi keempat terbesar dengan jumlah kunjungan mencapai lebih dari 348 ribu orang, di bawah Australia, India, dan China.
Selain faktor travel warning, industri juga menyoroti dampak tidak langsung dari ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga energi dan tiket pesawat. Ketidakpastian global ini sering kali membuat wisatawan lebih berhati-hati dan cenderung melakukan pemesanan kamar mendekati tanggal keberangkatan agar lebih fleksibel.
Meski menghadapi berbagai tantangan eksternal, Bali dinilai memiliki daya tahan pariwisata yang sudah teruji. Citra internasional yang kuat serta pasar yang luas membuat Pulau Dewata relatif cepat pulih setiap kali menghadapi gangguan global, memastikan sektor perhotelan tetap bergerak positif di tengah dinamika keamanan dunia.
Editor: Redaktur TVRINews
