
Protes Tokoh Adat Sumba Barat Daya Terhadap Pernyataan Gubernur NTT Mengenai Bangsawan Sumba
Penulis: Freddy Ladi
TVRINews, Sumba Barat Daya
Pernyataan kontroversial Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat, mengenai banyaknya orang Sumba yang mengaku bangsawan namun kesulitan dalam urusan makan sehari-hari, telah menuai kecaman dari para tokoh adat di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi NTT.
Rato Lede Mamu, seorang tokoh adat dari Loura, dengan tegas menyatakan bahwa pernyataan Gubernur NTT tersebut telah melukai hati orang Sumba. Ia menilai bahwa pernyataan tersebut tidak hanya memilah-milih masyarakat Sumba, tetapi juga tidak memahami stratifikasi sosial yang ada di wilayah tersebut.
"Sumba bukanlah tempat bagi pengemis. Semua orang di Sumba bekerja keras. Pernyataan Gubernur NTT telah menyakiti perasaan kami," tegas Rato Lede Mamu dalam wawancara dengan TVRI News. Ia menambahkan bahwa Gubernur seharusnya memahami dan merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba sebelum membuat pernyataan yang merendahkan.
Baca juga: Pemerataan Akses Digital, Perdayakan Masyarakat
Rato Lede Mamu juga menyoroti pandangan Gubernur NTT mengenai kesulitan makan yang dihadapi bangsawan Sumba. Ia menantang Gubernur untuk datang berkunjung ke rumah-rumah masyarakat Sumba, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Ia menegaskan bahwa orang Sumba akan dengan tulus menjamu tamu, bahkan memberikan hadiah seperti kain, ayam, dan babi sebagai simbol keramahan dan kekayaan budaya.
Tokoh adat lainnya juga menyatakan bahwa Gubernur NTT tampaknya kurang memahami budaya dan kehidupan masyarakat Sumba secara mendalam. Para tokoh adat berharap agar pemimpin daerah lebih berempati dan terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat sebelum membuat pernyataan yang bisa menyinggung perasaan masyarakat setempat.
Kontroversi pernyataan Gubernur NTT ini memberikan pelajaran penting tentang pentingnya pemahaman mendalam terhadap budaya dan kehidupan suatu wilayah sebelum membuat pernyataan yang bisa menimbulkan kesalahpahaman dan ketegangan.
Editor: Rina Hapsari
