
Penulis: Syahril Malik
TVRINews, Poso
Desa Tokorondo, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, dikenal sebagai salah satu sentra budidaya rumput laut di wilayah Bumi Sintuwu Maroso. Dengan luas lahan budidaya mencapai sekitar 30 hektare yang dikelola oleh 30 petani, desa ini mampu memproduksi hingga 15 ton rumput laut segar dalam setiap kali panen.
Ketua Kelompok Budidaya Rumput Laut “Bintang Laut”, Abd Malik Lakari, menjelaskan bahwa masa tanam hingga panen rumput laut membutuhkan waktu sekitar 40 hari. Selama periode tersebut, pembudidaya harus rutin memantau kondisi bibit yang diikat pada tali agar tetap tumbuh optimal.
Menurut Abd Malik, tantangan terbesar muncul saat musim hujan dan gelombang tinggi. Kondisi cuaca tersebut kerap memicu penyakit ice-ice serta menyebabkan bibit terlepas dari tali.
“Kalau panen bulan ini agak meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Jumlah produksi sangat tergantung cuaca. Kalau cuaca bagus, panen juga banyak. Tapi saat musim ombak besar dan hujan, itu jadi kendala. Biasanya muncul penyakit ice-ice, dan bibit juga bisa lepas dari tali,” ujar Abd Malik saat dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).
Ia memprediksi cuaca buruk berpotensi terjadi memasuki pertengahan Februari, sebagaimana pola tahunan yang biasa terjadi.
“Kalau mendekati Imlek, biasanya selalu muncul gelombang besar setiap tahun,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, kelompok pembudidaya melakukan penyesuaian metode budidaya, di antaranya dengan menenggelamkan atau melepas pelampung bibit agar rumput laut tidak terdampak gelombang tinggi.
“Supaya bibit tenggelam dan tidak terlalu terpengaruh gelombang,” jelasnya.
Selain faktor cuaca, pembudidaya juga menghadapi keterbatasan sarana penunjang, khususnya terpal untuk pengeringan rumput laut saat masa panen tiba.
“Saat panen banyak, terpal untuk pengeringan kurang. Itu juga menjadi kendala kami,” tambahnya.
Jenis rumput laut yang dibudidayakan di Desa Tokorondo umumnya adalah Eucheuma cottonii jenis Sakul Hijau, yang dikenal relatif tahan terhadap perubahan lingkungan dan memiliki harga jual yang cukup stabil.
Untuk harga, rumput laut basah dijual sekitar Rp2.000 per kilogram, sementara rumput laut kering mencapai Rp16.000 per kilogram. Selain dipasarkan ke pengepul lokal, hasil panen rumput laut Tokorondo juga dikirim ke Makassar, Sulawesi Selatan, untuk selanjutnya diekspor ke Cina dan Jepang.
Editor: Redaktur TVRINews
