
Penulis: Edi Kusnadi
TVRINews, Jambi
Pendirian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) Kabupaten Sarolangun menjadi prioritas utama Badan Gizi Nasional (BGN). Program ini tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional Kabupaten Sarolangun, Fitri Permata Sari, menjelaskan bahwa pendirian SPPG di wilayah 3T difokuskan untuk memastikan pemerataan layanan gizi.
“Pendirian SPPG di wilayah 3T menjadi prioritas agar layanan pemenuhan gizi dapat menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Saat ini sudah ada delapan SPPG yang beroperasi dan dua puluh dua lainnya masih dalam tahap persiapan,” ujar Fitri Permata Sari.
Sesuai aturan dan standar nasional, setiap SPPG dirancang untuk melayani maksimal 2.500 hingga 3.000 penerima manfaat, termasuk peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Pendirian SPPG juga harus memenuhi persyaratan tertentu, mulai dari jumlah penerima manfaat, jarak layanan, hingga kesiapan badan hukum pengelola atau yayasan.
Saat ini, delapan SPPG telah beroperasi di delapan kecamatan, sementara 22 SPPG lainnya masih dalam tahap persiapan pembangunan dan administrasi.
Pemerintah Kabupaten Sarolangun turut mendukung program ini dengan menyediakan lokasi melalui skema pinjam pakai fasilitas milik daerah, sebagai bagian dari komitmen menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program SPPG diharapkan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan ibu, di wilayah 3T Sarolangun.
Editor: Redaktur TVRINews
