
Penulis: Sunarto
TVRINews, Jember
Kenaikan harga wadah plastik hingga 45–50 persen dalam waktu singkat menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Jember. Kondisi ini dipicu gangguan distribusi petrokimia global akibat konflik di Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz.
Harga berbagai jenis kemasan plastik mengalami lonjakan signifikan. Gelas plastik naik dari Rp9.000 menjadi Rp12.000 per 50 buah. Sementara kotak styrofoam atau gabus sintetis meningkat dari Rp26.000 menjadi Rp42.000 per bundel.
Kenaikan tersebut berdampak langsung pada pelaku UMKM yang masih bergantung pada plastik sebagai kemasan utama. Mereka kesulitan menekan biaya produksi karena penggunaan plastik sulit dikurangi.
“Sudah jadi kebutuhan, karena plastik itu wadah utama untuk jualan, karena menggunakan plastik lebih fleksible” ujar Siti Aisyah, pedagang UMKM, Minggu, 12 April 2026.
Menurutnya, kemasan menjadi faktor penting dalam penjualan. Tanpa kemasan yang praktis, produk berisiko kurang diminati pembeli.
Keluhan juga datang dari pedagang plastik. Mereka mengalami penurunan omzet akibat melemahnya daya beli pelanggan setelah harga naik.
“Menurun sekali sejak harga naik …semoga segera bisa teratasi kondisi begini. Biar ekonomi kembali berjalan stabil,“ ungkap Intan Kusuman, pedagang plastik.
Seiring kondisi tersebut, pemerintah mulai menyiapkan langkah mitigasi. Upaya yang dilakukan meliputi pemantauan komoditas global, pengamanan pasokan bahan baku, serta pengembangan substitusi kemasan ramah lingkungan seperti bioplastik berbasis rumput laut.
Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan pemberian subsidi, penguatan rumah kemasan, serta pengaturan impor guna menjaga stabilitas pasokan dan membantu pelaku UMKM bertahan.
Editor: Redaktur TVRINews
