Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Kulon Progo
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Samigaluh 001 terus memperluas layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak–anak sekolah di wilayah dataran tinggi Kulon Progo.
Kepala SPPG Samigaluh 001, Salman Alfarisi Iqbal Hatta, menjelaskan bahwa program ini hadir setelah adanya pengajuan titik layanan dari mitra dan yayasan yang kemudian diverifikasi oleh Badan Gizi Nasional.

“Setelah titik Samigaluh diverifikasi, barulah dilakukan penempatan Kepala Dapur. Dari situlah program ini berjalan,” kata Salman dalam keterangannya kepada tvrinews.com, Senin, 8 Desember 2025.
Hingga saat ini, SPPG Samigaluh 001 melayani 90 sekolah dengan total 3.999 penerima manfaat. Samigaluh dipilih menjadi salah satu prioritas karena merupakan wilayah dataran tertinggi di Kulon Progo, dengan banyak anak yang memerlukan dukungan gizi tambahan.
“Anak-anak di Samigaluh benar-benar membutuhkan makanan bergizi. Kondisi geografis dan sosial masyarakat membuat kehadiran MBG sangat berdampak,” lanjutnya.
Distribusi MBG di Samigaluh tak mudah. Medan terjal dan jalan sempit membuat kendaraan roda empat sulit menjangkau sekolah-sekolah di puncak perbukitan. Karena itu, SPPG Samigaluh mengoperasikan lima sepeda motor dan dua mobil untuk distribusi makanan.

“Medannya memang berat. Bahkan pakai motor pun masih sering susah. Itu sebabnya pengantar makanan kami prioritaskan warga lokal yang sudah hafal kondisi medan,” tambahnya.
Tantangan medan kerap memunculkan pengalaman dramatis bagi para pengantar MBG. Baru-baru ini, seorang pengantar motor mengalami kebocoran ban di kawasan bukit Suroloyo.
“Di atas tidak ada bengkel, jadi motornya harus digeret sampai bawah,” ungkap Salman.
Pada minggu pertama operasional dapur, pengantar mobil juga sempat tergelincir karena belum terbiasa dengan tanjakan ekstrem.
Salman menegaskan manfaat MBG sangat terlihat pada perkembangan anak-anak. Seorang guru yang ditemuinya bahkan menyebut perubahan terjadi hanya dalam dua minggu setelah program berjalan.
“Ada peningkatan semangat belajar. Anak-anak tidak lagi mengantuk saat pelajaran. Guru-guru bilang, sebelumnya banyak anak yang berangkat sekolah tanpa sarapan,” ungkapnya.
Namun keterbatasan aturan yang membatasi jumlah penerima maksimal 4.000 membuat SPPG sempat harus menghentikan layanan pada salah satu sekolah. Respons guru dan siswa sangat emosional.
“Gurunya sampai menangis. Mereka sangat terbantu dengan MBG,” ucapnya.
Sebagai solusi, SPPG menunggu beroperasinya dapur tambahan agar sekolah-sekolah yang terhenti dapat kembali terlayani. Untuk sementara, jika ada makanan lebih, SPPG mengirimkannya ke TK dan PAUD di sekitar.
Salman juga menyiapkan sejumlah inovasi agar program semakin menarik bagi anak-anak. Salah satunya adalah rencana menyediakan seragam khusus bagi para driver pengantar.
Salman menekankan bahwa MBG bukan hanya memperbaiki gizi anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi warga.
“Di SPPG Samigaluh, hampir 99% pekerja adalah warga lokal. Program ini membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi. Harapan kami, MBG terus berlanjut kapan pun,” tuturnya.
Editor: Redaksi TVRINews
