
Visual G. Lewotobi Laki-laki tgl. 20/02/2026 perenam jam terakhir (12.00-18.00 Wita.) (Foto: dari depan Pos PGA. Lewotobi Laki-laki)
Penulis: Ama Boro Huko
TVRINews, Flores Timur
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (KESDM RI) melaporkan bahwa berdasarkan hasil pengamatan periode Januari hingga Februari 2026, aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Data kegempaan memperlihatkan penurunan bertahap dalam satu bulan terakhir.
Secara visual, dalam sepekan terakhir gunung api umumnya terlihat jelas hingga sesekali tertutup kabut. Teramati asap dari kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, dengan ketinggian berkisar antara 50–200 meter dari puncak. Kondisi cuaca bervariasi dari cerah hingga hujan, dengan angin lemah sampai sedang bertiup ke arah utara dan timur laut. Suhu udara tercatat antara 21–32°C. Aktivitas guguran terpantau, namun jarak dan arah luncurannya tidak dapat diamati secara visual.
Secara keseluruhan, parameter visual, seismik, dan deformasi selama Januari hingga Februari 2026 menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki didominasi dinamika fluida dangkal atau hidrotermal yang bersifat fluktuatif. Peningkatan gempa Low Frequency (LF) yang terekam di beberapa stasiun serta satu kejadian Tornillo tidak disertai peningkatan gempa Vulkanik Dalam (VA), tidak diikuti kemunculan Vulkanik Dangkal (VB), dan tidak didukung indikasi inflasi deformasi.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan aktivitas fluida kemungkinan berkaitan dengan proses degassing dan interaksi hidrotermal pada sistem yang masih panas pascaerupsi, serta dapat dipengaruhi faktor eksternal seperti curah hujan tinggi. Hasil analisis juga menunjukkan tidak adanya indikasi akumulasi tekanan magma baru di zona dangkal. Meski demikian, potensi aliran lahar tetap perlu diwaspadai, khususnya pada musim hujan.
Gempa guguran dan hembusan tercatat dalam jumlah rendah hingga sedang, mencerminkan aktivitas permukaan dan proses degassing pascaerupsi. Sementara itu, gempa tektonik lokal maupun tektonik jauh berada dalam kisaran normal dan tidak menunjukkan keterkaitan dengan peningkatan aktivitas vulkanik.
Diketahui, erupsi terakhir terjadi pada 18 Oktober 2025 dan hingga kini belum kembali terjadi erupsi. Tinggi kolom asap teramati rendah hingga sedang tanpa menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Berdasarkan analisis visual dan instrumental tersebut, tingkat aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki resmi diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada Jumat, 20 Februari 2026, pukul 12.00 WITA.
Sebagai informasi, masyarakat dan wisatawan diimbau tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi serta tetap tenang dan mengikuti arahan pemerintah daerah. Warga juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.
Masyarakat di wilayah rawan bencana diingatkan untuk mewaspadai potensi banjir lahar saat terjadi hujan lebat, terutama di daerah aliran sungai yang berhulu di puncak gunung, seperti Nawakote, Boru, Padang Pasir, Klatanlo Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen.
Apabila terjadi hujan abu, masyarakat yang terdampak dianjurkan menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut guna melindungi saluran pernapasan. Abu vulkanik juga berpotensi mengganggu operasional bandara serta jalur penerbangan apabila sebarannya mengarah ke area bandara dan lintasan pesawat.
Editor: Redaksi TVRINews
