
Penulis: Riadatussholihah
TVRINews, Kabupaten Lombok Tengah
Gas elpiji 3 kilogram mulai langka di sejumlah wilayah Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi ini dikeluhkan pedagang maupun warga, terutama karena terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga selama bulan puasa.
Kelangkaan terjadi di beberapa titik, termasuk di kawasan Pasar Renteng, Praya. Sejumlah pengecer mengaku kesulitan mendapatkan pasokan sejak sebelum Ramadan dan mencapai puncaknya pada Senin, 23 Februari 2026.

Salah seorang pengecer di Pasar Renteng Praya, Hapip, mengatakan dirinya tidak dapat melayani pembeli karena stok gas kosong. Biasanya, ia menerima pasokan hingga 80 tabung dari pangkalan resmi, namun dalam beberapa hari terakhir distribusi berkurang drastis, bahkan sempat tidak tersedia sama sekali.
“Biasanya saya dapat sampai delapan puluh tabung dari pangkalan. Tapi sekarang pasokan berkurang drastis, bahkan sempat kosong. Kalau pun ada, langsung habis dibeli pelanggan,” ujar Hapip, Selasa, 24 Februari 2026.
Akibat terbatasnya pasokan, harga eceran elpiji 3 kilogram di tingkat pengecer naik menjadi sekitar Rp20 ribu hingga Rp22 ribu per tabung, lebih tinggi dari harga normal.

Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Lombok Tengah, Sri Mulyaningsing, mengaku hingga kini belum menerima laporan resmi dari pangkalan terkait kelangkaan elpiji subsidi tersebut.
“Kami belum menerima laporan resmi dari pangkalan terkait kelangkaan ini. Namun kami akan segera melakukan pengecekan di lapangan untuk memastikan kondisi distribusi,” kata Sri Mulyaningsing.
Ia menjelaskan, pada tahun ini pemerintah daerah telah mengajukan kuota sebanyak 33.541 tabung elpiji 3 kilogram untuk masyarakat yang terdata dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai penerima subsidi. Bahkan, jumlah tersebut telah ditambah 10 persen guna mengantisipasi peningkatan kebutuhan, terutama selama Ramadan.
“Tahun ini kami mengajukan 33.541 tabung untuk masyarakat yang terdata dalam DTSEN sebagai penerima elpiji tiga kilogram. Jumlah itu sudah kami tambah sepuluh persen untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan,” jelasnya.
Sri Mulyaningsing juga mengimbau masyarakat penerima subsidi agar membeli elpiji 3 kg di pangkalan resmi untuk mendapatkan harga sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET). Ia menegaskan, warga yang tidak terdaftar sebagai penerima subsidi diminta tidak menggunakan elpiji 3 kg agar distribusi tetap tepat sasaran.
“Kami mengimbau masyarakat yang berhak agar membeli di pangkalan resmi supaya mendapatkan harga sesuai HET. Bagi yang tidak terdaftar sebagai penerima subsidi, sebaiknya tidak menggunakan elpiji tiga kilogram agar distribusi tetap tepat sasaran,” tegasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
