Penulis: Alfin
TVRINews, Jakarta
Sejarah kehebatan sosok Laksamana Malahayati diangkat dalam pertunjukan teater. Kisah tokoh Laksamana perempuan pertama di dunia asal Aceh tersebut diperankan Marcella Zalianty, dan mampu menggetarkan penonton di gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 9 September 2023.
Pertunjukkan teater yang disutradarai Iswandy Pratama itu, mampu memberikan pesan kepada penonton bagaimana sosok Malahayati sang pahlawan itu lahir dan melegenda dan mengandung banyak pesan moral meski sudah terjadi lima abad lalu, diantaranya adalah terjadinya berbagai pengkhianatan yang diterima Laksamana Malahayati
Pertunjukan berdurasi kurang dari dua jam itu menegaskan sosok heroik Laksamana Malahayati tidak lahir dari kemudahan hidup. Namun juga dari berbagai rintangan.
Seperti contoh salah satu adegan saat Syahbandar bernama 'Abdullah', tengah berdialog dengan 'Celik' menyampaikan kondisi genting yang dialami Malahayati saat melakukan perjuangan.
"Sejak zaman Nabi, fitnah dan pengkhianatan selalu mengintai dia yang berjuang membela hak dan kebenaran..." ucap Abdullah.
Kemudian kalimat itu dijawab Celik teman Abdullah soal prilaku busuk para musuh dalam selimut. "Si Culas, Si Licik, Si Penghisap darah saudara sendiri macam begini selalu ada dalam sejarah," sahut Celik.
"Ilahi Robbi... Nasib malang apalagi yang akan menimpa Keumala...?" tanya Abdullah kembali.
"Wallahualam. Tapi seorang pahlawan selalu lahir dari kesabaran tanpa batas," jawab Celik.
Kemudian, ketegangan semakin memuncak ketika pasukan kerajaan mendekat, berhadapan dengan pasukan Inong Bale. Inong Bale awalnya bersorak, kini mulai menghunus rencongnya. Inong Bale sendiri merupakan kesatuan pejuang wanita Aceh yang beranggotakan lebih dari 2.000 prajurit perempuan janda syuhada pejuang tanah Aceh.
Hingga akhirnya perjuangan Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Bale mampu mematahkan perlawanan invasi armada Belanda yang dipimpin dua pengelana bersaudara, Cornelis de Houtman dan Frederik de Houtman.
Malahayati yang merupakan Panglima Armada Laut perempuan pertama di dunia dari Kesultanan Aceh Darussalam pada abad 16 dalam menghadapi penjajah. Di dalamnya menampilkan pertempuran laut dengan latar Aceh tempo dulu termasuk menghadirkan kejutan berupa replika kapal perang menyerupai aslinya di atas panggung.
Pertunjukan juga ditambah dengan teknologi videomapping yang disesuaikan dengan fakta pertempuran masa lalu antara armada Kesultanan Aceh yang dipimpin Laksamana Malahayati melawan armada perang Belanda dan Portugis.
Diakhir pertunjukkan, Malahayati mampu menghalau para penjajah Portugis di laut Haru. Kapal-kapal musuh yang datang ke laut Haru diusir bahkan ditenggelamkan. Salah satu kapal yang berhasil dihalau pasukan Inong Balee tersebut adalah kapal yang ditumpangi Alfonso de Castro.
Editor: Rina Hapsari
