Penulis: Hari Sukemi
TVRINews, Jawa Timur
Ratusan warga Kabupaten Jombang Jawa Timur berunjuk rasa memprotes pengolahan kayu di salah satu pabrik milik Perusahaan Asing. Limbah berupa serbuk kayu mencemari permukiman dan mengganggu aktivitas warga selama tiga bulan terakhir . Ironisnya manajemen pabrik menolak menemui para pendemo.
Mereka ngeluruk ke Kantor Pabrik Kayu PT. LSF yang berada di Jalan Nurcholis Madjid Kecamatan Jombang Kota. Dengan membawa poster-poster bertuliskan kecaman dan protes kepada manajemen pabrik. Poster ditempelkan dipintu masuk pabrik. Sehingga truk - truk yang mengangkut gelondongan kayu tidak masuk pabrik.
Ratusan warga didampingi oleh Perangkat Desa dan anggota DPRD setempat . Warga meminta pertanggung jawaban manajemen pabrik karena limbah pengolahan kayu dirasa sangat mengganggu.
"Aksi demo ratusan warga merupakan puncak kekesalan mereka karena protes pencemaran serbuk kayu tidak digubris. Jika hal ini saja berlangsung maka warga bisa saja berbuat lebih dan menutup paksa aktivitas pabrik." tegas Muhamad Sofwan, perwakilan pendemo.
Sementara pada pertemuan yang sempat berlangsung tanpa manajemen pabrik, pihak dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang menyampaikan penjelasan terkait kapasitas DLH terhadap aktivitas pabrik.
"Pabrik pengolahan kayu ini merupakan Perusahaan Milik Asing yang beroperasi di Kabupaten Jombang dan DLH tidak bisa berbuat banyak karena ini ranah pusat sesuai Undang-Undang yang baru , DLH menyerahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Pusat. Namun kita akan terus berkoordinasi," tegas Yulia Inawati, Kabid Wasdal Gakkum DLH Jombang, Kamis, 05 Oktober 2023.
Ditambahkan bahwa pencemaran lingkungan ini terjadi akibat adanya kerusakan dari dua alat pengendali pencemaran udara dan adanya perubahan penggunaan bahan baku sehingga mempengaruhi kinerja.
Setelah perwakilan dari DPRD serta Perangkat Desa melakukan koordinasi, disepakati bahwa akan dilakukan hearing pada pekan depan untuk mempertemukan warga dengan pihak manajemen pabrik dan mencari jalan keluar dari persoalan lingkungan akibat limbah pabrik ini.
Editor: Redaktur TVRINews
