Penulis: Didi Hariadi
TVRINews, Jambi
Keberadaan hutan mangrove di wilayah pesisir pantai timur Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, kian mengkhawatirkan. Kerusakan yang terus terjadi dikhawatirkan akan semakin meluas jika tidak segera dilakukan upaya pemulihan, serta berpotensi memicu banjir rob atau pasang air laut yang lebih besar.
Aktivis lingkungan dari Komunitas Pemuda Pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Muhammad Atta, mengatakan ekosistem mangrove memiliki peran vital sebagai penyangga kehidupan masyarakat pesisir. Selain menjadi habitat berbagai biota laut, mangrove juga berfungsi sebagai sumber penghidupan masyarakat, khususnya nelayan.
“Kerusakan mangrove sangat berdampak pada sendi-sendi kehidupan masyarakat pesisir. Salah satu dampak nyata yang mulai dirasakan adalah meningkatnya risiko banjir rob akibat pasang air laut,” ujar Atta.
Ia menegaskan, tanpa langkah pemulihan yang serius dan berkelanjutan, kondisi ekosistem mangrove di wilayah tersebut akan terus berada dalam situasi kritis. Padahal, mangrove memiliki fungsi penting dalam menahan abrasi dan meredam gelombang laut.
Atta mencontohkan keberhasilan masyarakat Pangkal Babu, Desa Tungkal Satu, dalam menjaga ekosistem mangrove. Keberadaan mangrove yang terawat di wilayah tersebut mampu menghalau abrasi pantai, sehingga masyarakat masih dapat memanfaatkan lahan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan.
Menurutnya, upaya pelestarian mangrove perlu melibatkan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak terkait agar ekosistem pesisir tetap terjaga dan keberlangsungan hidup masyarakat tidak terancam.
Editor: Redaktur TVRINews
